Bisnis Pertanian Jagung: Sekilas Tren dan Budidayanya

Ringkasan Berita

[01] Indonesia Surplus Produksi Jagung 2024

Produksi jagung Indonesia tahun 2024 mencapai 15,21 juta ton, meningkat 2,98% dari tahun 2023 yang sebesar 14,77 juta ton. Surplus produksi ini memenuhi kebutuhan konsumsi baik rumah tangga maupun non-rumah tangga, dengan Jawa sebagai pulau penghasil terbesar mencapai 7,89 juta ton atau 51,86% dari total produksi nasional.

Insight Pembelajaran:

  • Untuk pemula: Memulai bisnis jagung sekarang adalah timing yang tepat karena pasar domestik sedang kuat. Data surplus nasional menunjukkan produksi dalam negeri mampu memenuhi permintaan, yang berarti stabilitas harga lebih terjaga. Fokuskan pada varietas unggul yang produktivitasnya tinggi seperti yang digunakan di Jawa Timur untuk mendapat hasil optimal.
  • Untuk bisnis berjalan: Manfaatkan momentum surplus ini dengan memperluas jaringan distribusi ke industri pakan ternak yang membutuhkan jagung berkualitas. Pertimbangkan untuk meningkatkan nilai tambah melalui pengolahan pasca panen yang baik, karena kualitas jagung menjadi kunci daya saing di pasar industri yang semakin selektif.

Tanggal & Sumber:
7 Januari 2025
https://bandungkab.bps.go.id/en/news/2025/01/07/178/produksi-jagung-2024-di-indonesia-surplus.html

[02] Target Ekspor Jagung 2025 Terbuka Lebar

Pemerintah optimis Indonesia akan mampu mengekspor jagung pada 2025 dengan proyeksi produksi 16,7 juta ton sementara kebutuhan nasional hanya 13 juta ton. Surplus 3,7 juta ton membuka peluang ekspor, meski impor untuk jagung industri masih diperlukan 900.000 ton karena kualitas lokal belum sepenuhnya memenuhi standar industri.

Insight Pembelajaran:

  • Untuk pemula: Kesempatan terbuka luas untuk fokus pada peningkatan kualitas jagung, bukan sekadar kuantitas. Pelajari standar jagung industri dari segi kadar air, kebersihan, dan kandungan aflatoksin. Ini akan membedakan produk Anda dengan petani konvensional dan membuka akses ke pasar premium.
  • Untuk bisnis berjalan: Investasi pada fasilitas pasca panen dan quality control sangat strategis saat ini. Gap 800.000 ton jagung industri yang belum bisa dipenuhi lokal adalah peluang emas. Bangun kemitraan dengan industri untuk memahami spesifikasi yang mereka butuhkan, lalu sesuaikan proses produksi untuk menangkap pasar yang lebih menguntungkan ini.

Tanggal & Sumber:
9 Desember 2024
https://indonesia.go.id/kategori/editorial/8852/tonggak-baru-menuju-kemandirian-pangan-2025?lang=1

[03] Luas Panen Jagung Meningkat 2,93 Persen

Luas panen jagung pipilan Indonesia tahun 2024 mencapai 2,55 juta hektare, naik 72,56 ribu hektare atau 2,93% dibanding 2023. Produksi jagung pipilan kering dengan kadar air 14% mencapai 15,14 juta ton, meningkat 364,48 ribu ton atau 2,47%. Potensi luas panen periode Januari-Maret 2025 diperkirakan 0,85 juta hektare dengan potensi produksi 4,81 juta ton.

Insight Pembelajaran:

  • Untuk pemula: Tren peningkatan luas panen menandakan kepercayaan petani terhadap profitabilitas jagung. Namun jangan terjebak hanya mengejar luas lahan – perhatikan produktivitas per hektare. Investasi pada benih unggul dan teknik budidaya yang baik akan memberikan return lebih tinggi dibanding sekadar menambah lahan tanpa perbaikan teknis.
  • Untuk bisnis berjalan: Antisipasi kompetisi yang meningkat seiring bertambahnya luas tanam nasional dengan diferensiasi produk. Fokus pada efisiensi operasional dan konsistensi kualitas. Pertimbangkan sistem kontrak dengan industri untuk mengamankan harga dan pasar, serta adopsi teknologi precision agriculture untuk meningkatkan produktivitas di lahan yang sudah ada.

Tanggal & Sumber:
3 Februari 2025
https://www.bps.go.id/en/pressrelease/2025/02/03/2412/pada-2024–luas-panen-jagung-pipilan-mencapai-2-55-juta-hektare–produksi-jagung-pipilan-kering-dengan-kadar-air-14-persen-pada-2024-sebanyak-15-14-juta-ton-.html

[04] Jawa Timur Pimpin Produksi dengan Rata-rata 4,47 Juta Ton

Jawa Timur menjadi daerah penghasil utama jagung Indonesia periode 2020-2024 dengan rata-rata produksi 4,47 juta ton per tahun. Kondisi tanah dan iklim Jawa Timur sangat mendukung budidaya jagung secara intensif. Disusul Jawa Tengah (2,32 juta ton), Sumatera Utara (1,15 juta ton), dan Lampung (1,15 juta ton).

Insight Pembelajaran:

  • Untuk pemula: Lokasi sangat menentukan kesuksesan budidaya jagung. Jika berencana memulai, pelajari karakteristik tanah dan iklim daerah Anda, lalu sesuaikan dengan varietas jagung yang cocok. Jangan memaksakan varietas populer jika kondisi lahan tidak mendukung – konsultasikan dengan penyuluh pertanian setempat untuk rekomendasi varietas adaptif lokal.
  • Untuk bisnis berjalan: Jika berlokasi di luar sentra produksi utama, jadikan ini keunggulan dengan menargetkan pasar lokal yang lebih dekat sehingga biaya distribusi lebih rendah. Sebaliknya, jika di sentra produksi, fokus pada spesialisasi dan kualitas premium untuk menonjol di tengah kompetisi tinggi. Bangun jaringan dengan pelaku industri pakan di Jawa dan Sumatera yang merupakan pasar utama.

Tanggal & Sumber:
5 Januari 2025
https://www.beritadaerah.co.id/index.php/2025/01/05/pola-produksi-dan-konsumsi-jagung-indonesia/

[05] Impor Jagung Naik 11,69 Persen Meski Produksi Meningkat

Meski produksi meningkat, impor jagung Indonesia Januari-September 2024 mencapai 1,38 juta ton senilai US$359,9 juta, naik 11,69% dibanding periode sama tahun sebelumnya. Argentina menjadi pemasok terbesar dengan 918,40 ribu ton, disusul Brasil 443,40 ribu ton dan Pakistan 13,55 ribu ton.

Insight Pembelajaran:

  • Untuk pemula: Pahami bahwa pasar jagung Indonesia terbagi dua: pakan ternak (kebutuhan besar, spesifikasi standar) dan industri (volume lebih kecil, spesifikasi ketat). Impor terjadi karena gap kualitas, bukan kuantitas. Mulai dengan target pasar pakan ternak yang lebih mudah dimasuki, sambil bertahap meningkatkan kualitas menuju standar industri.
  • Untuk bisnis berjalan: Data impor ini adalah sinyal kuat – ada permintaan yang belum terpenuhi lokal dari segi kualitas tertentu. Lakukan riset mendalam tentang spesifikasi jagung impor (terutama dari Argentina dan Brasil) yang digunakan industri. Investasi pada peningkatan kualitas dan sertifikasi dapat mengalihkan sebagian demand impor ini ke produk lokal Anda dengan margin lebih baik.

Tanggal & Sumber:
25 Januari 2025
https://data.goodstats.id/statistic/produksi-jagung-indonesia-naik-3-pada-2024-2QuuO

[06] Varietas Unggul Baru JH 29 dan JH 30 Diluncurkan

Balitbangtan meluncurkan dua varietas jagung hibrida unggul baru JH 29 dan JH 30 pada 2019. JH 29 memiliki potensi hasil 13,6 ton/ha dengan rata-rata 11,7 ton/ha, sementara JH 30 berpotensi 12,6 ton/ha dengan rata-rata 11,3 ton/ha. Kedua varietas ini secara nyata lebih unggul dibanding JH 27 dan Bima 20 Uri.

Insight Pembelajaran:

  • Untuk pemula: Pemilihan benih adalah investasi paling krusial di awal. Varietas unggul baru seperti JH 29 dan JH 30 menawarkan produktivitas hampir 3 kali lipat dari rata-rata nasional (4,5 ton/ha). Hitung dengan cermat: harga benih lebih mahal, tapi hasil panen jauh lebih tinggi. Konsultasikan dengan penangkar benih resmi untuk mendapat benih bersertifikat yang terjamin kualitasnya.
  • Untuk bisnis berjalan: Evaluasi performa varietas yang saat ini digunakan versus varietas baru. Lakukan uji coba skala kecil (demo plot) untuk membandingkan produktivitas, ketahanan hama, dan adaptasi terhadap kondisi lahan Anda. Varietas unggul baru bisa meningkatkan margin secara signifikan, terutama jika dikombinasikan dengan teknik budidaya yang baik. Pertimbangkan juga untuk menjadi plasma penangkar benih sebagai diversifikasi bisnis.

Tanggal & Sumber:
2019
https://tabloidsinartani.com/detail/indeks/tekno-lingkungan/9397-JH29-dan-JH-30-Varietas-Jagung-Unggulan-Terbaru-dari-Balitbangtan

[07] Tiga Strategi Swasembada Jagung: Intensifikasi, Optimalisasi, dan Ekstensifikasi

Kementerian Pertanian menerapkan tiga strategi mencapai swasembada jagung 2024: (1) Intensifikasi untuk meningkatkan produktivitas dengan benih unggul dan input organik, (2) Optimalisasi lahan dengan pola tumpang sari dan tumpang sisip untuk panen 4 kali setahun, (3) Ekstensifikasi perluasan lahan baru dengan inovasi teknologi seperti hormon auksin.

Insight Pembelajaran:

  • Untuk pemula: Tidak harus memiliki lahan luas untuk memulai. Strategi intensifikasi dan optimalisasi menunjukkan bahwa produktivitas bisa ditingkatkan di lahan terbatas. Pelajari teknik tumpang sari jagung dengan kacang tanah atau kedelai untuk memaksimalkan penggunaan lahan. Gunakan benih unggul dan pupuk organik untuk efisiensi biaya jangka panjang sambil menjaga kesuburan tanah.
  • Untuk bisnis berjalan: Terapkan konsep optimalisasi dengan meningkatkan indeks pertanaman. Jika biasanya panen 2 kali setahun, targetkan 3-4 kali dengan mengatur pola tanam dan varietas berumur pendek. Pertimbangkan sistem tumpang sisip dengan tanaman perkebunan jika memiliki lahan campuran. Untuk ekspansi, prioritaskan intensifikasi di lahan eksisting sebelum ekstensifikasi, karena ROI lebih cepat dan risiko lebih rendah.

Tanggal & Sumber:
1 November 2022
https://indonesia.go.id/kategori/editorial/6141/indonesia-mengejar-swasembada-jagung-2024?lang=1

[08] Sistem Jajar Legowo dan Zig-Zag Tingkatkan Produktivitas di Pasuruan

BSIP Jawa Timur mengenalkan teknologi budidaya ramah lingkungan di Pasuruan melalui program ICARE, termasuk sistem tanam jajar legowo dan zig-zag. Sistem jajar legowo meningkatkan produktivitas melalui peningkatan populasi tanaman dan pemanfaatan efek pinggir, sementara zig-zag mengoptimalkan penyerapan sinar matahari tanpa teknologi kompleks.

Insight Pembelajaran:

  • Untuk pemula: Teknik penanaman bukan sekadar estetika, tapi sangat berpengaruh pada hasil. Sistem jajar legowo memungkinkan semua tanaman mendapat manfaat posisi pinggir yang lebih produktif. Mulai dengan pola sederhana dan konsisten – jangan asal tanam tanpa perencanaan jarak. Investasi waktu untuk belajar sistem tanam yang baik akan terbayar dengan peningkatan hasil 10-15%.
  • Untuk bisnis berjalan: Adopsi teknologi sederhana seperti sistem tanam zig-zag atau jajar legowo tidak memerlukan investasi besar namun dampaknya signifikan. Lakukan trial di sebagian lahan sambil membandingkan dengan metode konvensional. Manfaat tambahan: memudahkan pengendalian gulma dan aplikasi herbisida, serta mempermudah panen mekanis. Dokumentasikan hasilnya untuk replikasi di musim berikutnya.

Tanggal & Sumber:
13 September 2024
https://jatim.bsip.pertanian.go.id/berita/transformasi-budidaya-jagung-di-pasuruan-dalam-demplot-icare

[09] Precision Agriculture dan Efisiensi Rantai Pasok Kunci Transformasi Industri

Menko Perekonomian mendorong efisiensi di seluruh lini rantai pasok jagung mulai dari panen, pasca panen, penyimpanan, hingga distribusi melalui inovasi dan teknologi pertanian tepat guna, termasuk precision agriculture. Langkah ini untuk meningkatkan daya saing industri jagung nasional dan memperkuat ketahanan pangan.

Insight Pembelajaran:

  • Untuk pemula: Era digital mengubah pertanian tradisional. Precision agriculture bukan lagi untuk skala besar saja – teknologi sederhana seperti soil moisture sensor atau weather station mini sudah terjangkau. Mulai dengan mencatat data hasil panen per blok lahan, curah hujan, dan waktu pemupukan. Data ini akan membantu pengambilan keputusan yang lebih akurat di musim berikutnya.
  • Untuk bisnis berjalan: Evaluasi seluruh rantai pasok Anda untuk identifikasi titik inefisiensi: susut saat panen, kerugian saat pengeringan, biaya transportasi tinggi, atau storage loss. Teknologi digital dapat mengoptimalkan setiap tahap ini. Pertimbangkan investasi pada dryer mekanis untuk mengurangi susut, GPS untuk pemetaan lahan, atau kemitraan dengan platform digital untuk efisiensi pemasaran. ROI mungkin tidak instan, tapi competitive advantage akan terasa dalam 2-3 musim.

Tanggal & Sumber:
6 Oktober 2022
https://www.ekon.go.id/publikasi/detail/4610/dukung-transformasi-industri-jagung-bagi-ketahanan-pangan-nasional-menko-airlangga-dorong-inovasi-dan-penggunaan-teknologi-pertanian-tepat-guna

[10] Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) Dongkrak Produktivitas

Penerapan Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) jagung meliputi pendekatan holistik dari pemilihan varietas, pengolahan tanah, pemupukan berimbang, pengendalian hama terpadu, hingga panen tepat waktu. Sistem ini terbukti dapat meningkatkan produktivitas dan pendapatan petani sekaligus mendukung program swasembada pangan.

Insight Pembelajaran:

  • Untuk pemula: PTT adalah framework lengkap yang mengintegrasikan semua aspek budidaya. Jangan hanya fokus pada satu aspek (misalnya hanya pupuk atau hanya benih). Sukses datang dari sinergi semua komponen: varietas tepat + tanah baik + pemupukan seimbang + pengendalian OPT + panen optimal. Ikuti pelatihan PTT dari dinas pertanian atau penyuluh untuk memahami konsep holistik ini.
  • Untuk bisnis berjalan: Audit praktik budidaya saat ini dengan kerangka PTT. Identifikasi gap – mungkin pemupukan sudah baik tapi pengendalian hama masih reaktif, atau varietas sudah unggul tapi panen sering terlambat. Perbaikan komprehensif dengan pendekatan PTT lebih efektif daripada solusi parsial. Libatkan tim atau pekerja dalam pelatihan PTT agar implementasi konsisten di seluruh lahan.

Tanggal & Sumber:
2024
https://pustaka.setjen.pertanian.go.id/info-literasi/info-teknologi-dongkrak-produktivitas-jagung-melalui-pengelolaan-tanaman-terpadu-ptt

[11] Lima Hama Utama Jagung dan Strategi Pengendalian Terpadu

Hama utama tanaman jagung meliputi lalat bibit (Atherigona exigua), penggerek batang (Ostrinia furnacalis), ulat grayak (Spodoptera spp.), penggerek tongkol (Helicoverpa armigera), dan ulat tanah (Agrotis ipsilon). Pengendalian efektif menggunakan pendekatan PHT kombinasi kultur teknis, biologi, dan kimia sebagai alternatif terakhir.

Insight Pembelajaran:

  • Untuk pemula: Hama adalah ancaman nyata yang bisa menyebabkan gagal panen hingga 80%. Jangan tunggu serangan terjadi baru bertindak – lakukan pengamatan rutin minimal 2 kali seminggu. Pelajari siklus hidup hama utama dan kenali gejala awal serangan. Investasi pada pelatihan identifikasi hama dan PHT akan menghemat biaya pestisida jangka panjang sambil menjaga lingkungan.
  • Untuk bisnis berjalan: Beralih dari ketergantungan pestisida kimia ke PHT membutuhkan perubahan mindset tapi sangat menguntungkan. Kombinasikan kultur teknis (pergiliran tanaman, sanitasi), biologi (musuh alami, Trichoderma, Beauvaria bassiana), dan monitoring ketat. Pestisida kimia hanya digunakan saat ambang ekonomi terlampaui. Pendekatan ini mengurangi biaya input, memperbaiki brand image (produk ramah lingkungan), dan meningkatkan kesehatan ekosistem lahan jangka panjang.

Tanggal & Sumber:
2024
https://pustaka.setjen.pertanian.go.id/info-literasi/tips-kendalikan-lima-hama-penting-tanaman-jagung

[12] Penyakit Bulai Ancaman Serius dengan Kerugian Hingga 100%

Penyakit bulai yang disebabkan Peronosclerospora maydis merupakan penyakit utama jagung di Indonesia dengan potensi kerugian hingga 100% pada varietas rentan. Gejala khas berupa warna klorotik memanjang sejajar tulang daun dan lapisan putih seperti tepung. Pengendalian efektif melalui varietas tahan, penanaman serempak, dan eradikasi tanaman terinfeksi.

Insight Pembelajaran:

  • Untuk pemula: Bulai adalah musuh nomor satu petani jagung – sekali terinfeksi, tanaman tidak akan berbuah. Pencegahan mutlak lebih baik daripada pengobatan. Pilih varietas tahan bulai seperti Srikandi, Lamuru, atau Gumarang. Lakukan perlakuan benih dengan fungisida metalaksil sebelum tanam. Jika menemukan tanaman bergejala, segera cabut dan musnahkan untuk mencegah penyebaran.
  • Untuk bisnis berjalan: Bulai bersifat sistemik dan menyebar cepat, jadi monitoring intensif sangat krusial terutama umur 1-2 minggu setelah tanam. Terapkan protokol ketat: penanaman serempak dalam radius area, periode bebas jagung minimal 2 minggu antar musim, sanitasi alat dan sepatu pekerja. Pertimbangkan asuransi pertanian untuk melindungi dari risiko serangan hebat. Dokumentasikan histori serangan per blok untuk perencanaan rotasi dan pemilihan varietas musim berikutnya.

Tanggal & Sumber:
2024
http://cybex.pertanian.go.id/artikel/94592/mengenal-hama-dan-penyakit-utama-pada-tanaman-jagung-dan-pengendaliannya/

[13] Teknologi Pasca Panen Tekan Susut dan Jaga Kualitas

Teknologi pasca panen jagung meliputi 5 tahap kritis: pemanenan pada waktu tepat (kadar air 35-40%), pengangkutan yang meminimalkan kerusakan, pengeringan hingga kadar air 14%, pemipilan dengan alat mekanis untuk efisiensi, dan penyimpanan dalam kondisi sejuk kering dengan sistem aerasi dan fumigasi untuk mencegah hama gudang.

Insight Pembelajaran:

  • Untuk pemula: Susut pasca panen bisa mencapai 20-30% jika penanganan buruk – ini sama saja membuang separuh keuntungan. Prioritaskan investasi pada lantai jemur yang baik dan tempat penyimpanan kedap air. Jangan menjual langsung setelah panen jika harga sedang rendah – dengan pengeringan dan penyimpanan proper, Anda bisa menunggu harga membaik tanpa khawatir jagung rusak.
  • Untuk bisnis berjalan: Evaluasi total cost of post-harvest losses saat ini. Investasi pada dryer mekanis (bed dryer atau batch dryer) mungkin mahal di awal, tapi payback period biasanya 2-3 tahun melalui pengurangan susut, peningkatan kualitas, dan fleksibilitas timing jual. Untuk penyimpanan, pertimbangkan gudang terventilasi baik dengan sistem fumigasi. Quality control ketat di setiap tahap pasca panen akan membuka akses ke pasar premium dengan harga 10-15% lebih tinggi.

Tanggal & Sumber:
5 September 2017
https://kanalpengetahuan.tp.ugm.ac.id/menara-ilmu/2017/581-teknologi-pascapanen-jagung.html

[14] Penelitian Galur Jagung di Mamuju Tunjukkan Potensi Produktivitas Tinggi

Penelitian uji adaptasi 8 galur jagung di dataran rendah Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat (April-Agustus 2024) menunjukkan potensi hasil berbagai galur hasil persilangan dengan produktivitas yang bervariasi. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok untuk mengevaluasi daya adaptasi dan potensi hasil di kondisi lokal.

Insight Pembelajaran:

  • Untuk pemula: Tidak semua varietas cocok di semua tempat – adaptasi lokal sangat penting. Sebelum skala besar, lakukan uji coba kecil beberapa varietas di lahan Anda. Amati yang mana paling adaptif: tahan terhadap cekaman lokal, produktif, dan sesuai preferensi pasar setempat. Konsultasi dengan balai penelitian atau universitas pertanian terdekat untuk mendapat informasi varietas yang sudah diuji di wilayah Anda.
  • Untuk bisnis berjalan: Jangan puas dengan satu varietas – lakukan continuous improvement melalui trial varietas baru setiap musim di sebagian kecil lahan (5-10%). Kemitraan dengan lembaga penelitian bisa memberi akses early adopter pada varietas promising sebelum dirilis komersial. Dokumentasikan performa setiap varietas dengan parameter terukur: produktivitas, ketahanan OPT, adaptasi terhadap stress, dan preferensi pasar. Data ini adalah aset berharga untuk optimalisasi jangka panjang.

Tanggal & Sumber:
20 September 2025
https://journal.unismuh.ac.id/index.php/AgriMu/article/view/18252

[15] Varietas Jagung Manis Unggul untuk Pasar Konsumsi Langsung

Empat varietas unggul jagung manis telah dikembangkan di Indonesia: Super Sweet (hasil 12,4 ton/ha, panen 72-104 HST), Bisi Sweet 2 (12,2 ton/ha, panen 64 HST), Sweet Boy (tahan karat dan bercak daun, kadar gula 13,4° brix), dan varietas lain dengan produktivitas 12,9 ton/ha. Varietas ini cocok untuk dataran rendah dan tinggi dengan karakteristik manis dan tongkol besar.

Insight Pembelajaran:

  • Untuk pemula: Jagung manis adalah segmen pasar berbeda dengan margin lebih tinggi dibanding jagung pakan, namun lebih demanding dalam hal kesegaran dan kecepatan distribusi. Cocok jika dekat dengan pasar konsumen (urban area) atau memiliki akses cold chain. Panen harus tepat waktu (kadar gula optimal) dan segera dipasarkan. Pertimbangkan bermitra dengan supermarket atau hotel/restoran untuk penjualan langsung.
  • Untuk bisnis berjalan: Diversifikasi ke jagung manis bisa meningkatkan profitabilitas jika memiliki infrastruktur yang tepat. Kunci sukses: timing panen presisi (moisture tester), pengemasan menarik, dan distribusi cepat (max 24-48 jam post-harvest). Bandingkan margin: jagung pakan Rp 5.000-6.000/kg vs jagung manis Rp 15.000-25.000/kg. Meski biaya produksi lebih tinggi (benih mahal, perawatan intensif), net margin bisa 2-3 kali lipat. Evaluasi apakah pasar target Anda cukup besar dan aksesibel.

Tanggal & Sumber:
10 Mei 2019
https://www.pertanianku.com/mengenal-4-varietas-unggul-jagung-manis/

Sekilas Panduan Teknis Pertanian Jagung

Bab 1: Pengenalan dan Syarat Tumbuh Jagung di Indonesia

1.1 Potensi dan Peran Strategis Jagung

Jagung (Zea mays L.) menduduki posisi strategis sebagai komoditas pangan ketiga di dunia setelah padi dan gandum, sementara di Indonesia menempati urutan kedua setelah padi. Tanaman yang termasuk famili Poaceae (rumput-rumputan) ini memiliki peran multi-fungsi: sebagai sumber pangan pokok alternatif, bahan baku utama industri pakan ternak (40-50% komposisi pakan), serta bahan baku industri makanan-minuman dan farmasi.

Data terbaru menunjukkan produksi jagung nasional tahun 2024 mencapai 15,21 juta ton dengan luas panen 2,55 juta hektare, meningkat 2,98% dari tahun sebelumnya. Jawa Timur tetap menjadi sentra produksi utama dengan kontribusi rata-rata 4,47 juta ton per tahun (2020-2024), disusul Jawa Tengah, Sumatera Utara, Lampung, dan Nusa Tenggara Barat. Produktivitas nasional rata-rata masih berkisar 5,9 ton/ha untuk jagung pipilan kering kadar air 14%, padahal potensi varietas unggul bisa mencapai 11-13 ton/ha.

1.2 Syarat Tumbuh Optimal

Keberhasilan budidaya jagung sangat ditentukan oleh kesesuaian kondisi agroklimat dengan kebutuhan tanaman:

Iklim dan curah hujan
Jagung membutuhkan curah hujan ideal 800-1.200 mm per tahun dengan distribusi merata. Tanaman ini menghendaki periode kering relatif saat menjelang panen untuk memudahkan pengeringan tongkol. Suhu optimal untuk pertumbuhan berkisar 20-30°C, dengan suhu malam tidak kurang dari 13°C. Kelembaban udara relatif ideal antara 50-60%. Intensitas cahaya matahari yang cukup sangat penting terutama pada fase pembungaan dan pengisian biji, minimal 8-10 jam per hari.

Ketinggian Tempat
Meski jagung dapat tumbuh dari dataran rendah hingga ketinggian 1.800 m dpl, produktivitas optimal dicapai pada ketinggian 50-600 m dpl untuk jagung pipilan kering, dan hingga 1.500 m dpl untuk jagung manis. Semakin tinggi lokasi, umur panen cenderung lebih panjang namun kualitas rasa jagung manis justru meningkat.

Tanah dan Drainase
Jagung menghendaki tanah dengan struktur gembur, tekstur lempung berpasir hingga lempung liat, kaya bahan organik, dan memiliki aerasi baik. pH tanah optimal berkisar 5,5-7,0 (netral cenderung sedikit asam). Kedalaman efektif perakaran minimal 30 cm dengan kemampuan menahan air (water holding capacity) sedang hingga tinggi. Drainase harus baik karena jagung tidak tahan terhadap genangan air lebih dari 24 jam – kondisi tergenang dapat menyebabkan akar busuk dan tanaman mati.

1.3 Pemilihan Varietas Unggul

Memilih varietas yang tepat adalah langkah fundamental menentukan keberhasilan usaha tani. Indonesia memiliki beragam varietas unggul yang telah dilepas untuk berbagai tujuan penggunaan:

Jagung Hibrida untuk Pipilan Kering
Varietas hibrida menawarkan produktivitas tinggi 8-13 ton/ha namun memerlukan input tinggi dan benih tidak dapat ditanam ulang. Varietas terbaru yang direkomendasikan antara lain:

  • JH 29: Potensi hasil 13,6 ton/ha, rata-rata 11,7 ton/ha, tahan bulai
  • JH 30: Potensi hasil 12,6 ton/ha, rata-rata 11,3 ton/ha, adaptif luas
  • Bima 20 URI: Hasil 10-12 ton/ha, tahan bulai dan hawar daun
  • Pioneer P32: Potensi hingga 13 ton/ha, adaptasi luas, tahan karat daun
  • Pertiwi 3: Hasil 9-11 ton/ha, tahan penyakit tropis, cocok dataran rendah

Untuk lahan masam marginal, varietas adaptif seperti SP 1, SP 2, dan Supra 1 hasil penelitian Universitas Bengkulu dapat menghasilkan 6,5 ton/ha dengan input rendah (sepertiga pemupukan standar), bahkan mencapai 11 ton/ha pada tanah subur.

Jagung Komposit Bersari Bebas
Keunggulan utama adalah benih dapat ditanam kembali, tahan hama, umur pendek (genjah), dan cocok untuk petani dengan modal terbatas. Produktivitas 3-5 ton/ha. Varietas yang direkomendasikan antara lain Lamuru, Sukmaraga, dan Arjuna.

Jagung Manis (Sweet Corn)
Khusus untuk pasar konsumsi segar dengan margin lebih tinggi namun memerlukan penanganan pasca panen cepat. Varietas unggulan:

  • Super Sweet: Hasil 12,4 ton/ha, umur panen 72 hari (dataran rendah) hingga 104 hari (dataran tinggi), tongkol 20-22 cm
  • Bisi Sweet 2: Hasil 12,2 ton/ha, panen 64 hari, 14-16 baris biji per tongkol
  • Sweet Boy: Kadar gula tinggi 13,4° brix, tahan karat dan bercak daun, panen 64 hari

Kriteria Pemilihan Varietas
Dalam menentukan varietas yang akan ditanam, pertimbangkan:

  1. Kesesuaian dengan kondisi lahan (ketinggian, jenis tanah, ketersediaan air)
  2. Tujuan penggunaan (pakan ternak, konsumsi, industri)
  3. Ketahanan terhadap hama dan penyakit dominan di wilayah
  4. Umur panen (genjah 75-85 hari, sedang 85-95 hari, dalam 95-120 hari)
  5. Aksesibilitas benih berkualitas dan harga ekonomis
  6. Preferensi pasar lokal dan potensi harga jual

Bab 2: Persiapan Lahan dan Pengolahan Tanah

2.1 Pemilihan dan Evaluasi Lokasi Lahan

Sebelum memulai persiapan lahan, lakukan survei menyeluruh untuk memastikan lokasi memenuhi kriteria:

Aksesibilitas
Lahan harus mudah dijangkau untuk transportasi sarana produksi (pupuk, pestisida, benih) dan hasil panen. Jalan usaha tani yang baik akan mengurangi biaya operasional dan kerusakan hasil saat pengangkutan.

Topografi
Kemiringan lahan ideal 0-8% (datar hingga landai). Untuk lahan dengan kemiringan 8-15%, diperlukan pembuatan teras atau guludan searah kontur untuk mencegah erosi. Lahan dengan kemiringan lebih dari 15% sebaiknya dihindari atau ditanami tanaman konservasi.

Riwayat Penggunaan Lahan
Perhatikan pola tanam sebelumnya. Sebaiknya menghindari penanaman jagung terus-menerus (monokultur) di lokasi sama untuk memutus siklus hama-penyakit. Rotasi dengan kacang-kacangan (kedelai, kacang tanah, kacang hijau) sangat dianjurkan karena dapat memperbaiki struktur tanah dan menambah nitrogen.

Sumber Air
Meski jagung relatif tahan kekeringan dibanding padi, ketersediaan air sangat krusial pada fase kritis: perkecambahan benih (0-10 hari setelah tanam/HST), pembungaan jantan-betina (50-60 HST), dan pengisian biji (60-80 HST). Pastikan akses ke sumber air irigasi atau cadangkan strategi pengairan alternatif.

2.2 Pembersihan dan Sanitasi Lahan

Lahan yang akan ditanami harus dibersihkan secara menyeluruh dari:

  • Sisa tanaman musim sebelumnya (jerami, batang, tongkol)
  • Gulma dan rumput liar beserta akarnya
  • Sampah, batu, dan benda asing lainnya

Sisa tanaman sehat dapat dicincang dan dikembalikan ke tanah sebagai mulsa atau bahan kompos. Namun, bila terdapat tanaman yang terserang penyakit (terutama bulai, busuk batang, atau hawar), WAJIB diangkut keluar dan dibakar/dikubur jauh dari lahan untuk mencegah penyebaran patogen.

2.3 Pengolahan Tanah

Tujuan pengolahan tanah adalah menciptakan kondisi fisik dan kimia tanah optimal untuk pertumbuhan akar, meningkatkan aerasi dan drainase, serta membasmi gulma dan patogen tanah.

Olah Tanah Sempurna (OTS)
Metode ini dilakukan pada seluruh lahan menggunakan bajak singkal atau traktor, cocok untuk tanah berat (lempung liat), lahan yang belum pernah ditanami, atau setelah masa bera panjang. Langkah-langkahnya:

  1. Pembajakan Pertama (Pengolahan Awal): Dilakukan 2-4 minggu sebelum tanam menggunakan bajak singkal sedalam 20-30 cm untuk membalik tanah dan membongkar agregat. Tujuannya membenamkan sisa tanaman, membunuh benih gulma yang terbuka, dan memperbaiki aerasi tanah. Tanah yang sudah dibajak dibiarkan kering-angin selama 1-2 minggu.
  2. Pembajakan Kedua (Penghalusan): Dilakukan 1 minggu sebelum tanam menggunakan garu rotari/cultivator untuk menghaluskan dan meratakan permukaan tanah. Pastikan tidak ada gumpalan tanah besar yang dapat mengganggu perkecambahan.
  3. Aplikasi Kapur Pertanian: Untuk tanah masam (pH < 5,5), aplikasikan kapur dolomit 0,5-2 ton/ha tergantung tingkat keasaman. Taburkan merata dan aduk dengan lapisan tanah atas. Diamkan 1-2 minggu sebelum pemupukan dasar agar kapur bereaksi sempurna. Manfaat pengapuran: meningkatkan pH tanah, menambah unsur Ca dan Mg, menetralkan Al dan Fe yang toksik, serta meningkatkan efisiensi pupuk.

Olah Tanah Minimum (OTM) atau Tanpa Olah Tanah (TOT)
Metode ini hanya mengolah tanah sepanjang barisan tanaman selebar 20-30 cm sedalam 15-20 cm, sementara area antar barisan tidak diolah atau hanya dibersihkan dari gulma. Cocok untuk tanah gembur berpasir, lahan berlereng untuk mengurangi erosi, atau sistem tanam berkelanjutan. Keuntungan: menghemat biaya, waktu dan tenaga, mengurangi erosi, serta menjaga struktur tanah dan mikroorganisme tanah. Kerugian: pengendalian gulma lebih intensif diperlukan.

Sistem Bedengan/Guludan
Direkomendasikan untuk lahan dengan drainase kurang baik, tanah berat, atau musim hujan. Langkah pembuatan:

  • Buat bedengan dengan tinggi 20-30 cm, lebar atas 100-120 cm, dan lebar bawah 150 cm
  • Jarak antar bedengan (parit drainase) 30-50 cm dengan kedalaman 20-30 cm
  • Panjang bedengan disesuaikan panjang lahan, sebaiknya arah Utara-Selatan untuk optimalisasi cahaya
  • Ratakan permukaan bedengan dan padatkan sedikit untuk mencegah amblas saat hujan

Parit drainase berfungsi mengalirkan kelebihan air saat hujan lebat, mencegah genangan yang dapat merusak akar. Pada musim kemarau, parit dapat digunakan sebagai tempat pengairan.

2.4 Pemupukan Dasar

Aplikasi pupuk organik (kandang, kompos, atau bokashi) sebagai pupuk dasar sangat dianjurkan untuk memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah. Dosis yang direkomendasikan:

  • Pupuk kandang matang: 5-10 ton/ha (tergantung kesuburan awal tanah)
  • Kompos: 3-5 ton/ha
  • Bokashi: 2-3 ton/ha

Pupuk organik ditaburkan merata di atas bedengan atau seluruh lahan, lalu diaduk dengan tanah lapisan atas (0-15 cm). Aplikasi dilakukan minimal 1 minggu sebelum tanam agar bahan organik terdekomposisi sebagian dan terintegrasi dengan tanah.

Untuk pupuk kimia dasar (SP-36 atau TSP), dapat diberikan bersamaan pemupukan awal atau saat tanam. Dosis 100-150 kg SP-36/ha atau setara 100-125 kg TSP/ha, tergantung status P tanah. Aplikasi dengan cara alur (larikan) di sisi lubang tanam dengan jarak 5-7 cm dari benih untuk menghindari kontak langsung yang dapat merusak kecambah.

Bab 3: Penanaman Jagung

3.1 Waktu Tanam Optimal

Penentuan waktu tanam sangat krusial untuk menghindari kegagalan panen akibat cekaman kekeringan atau serangan hama penyakit. Strategi penanaman di Indonesia:

Musim Hujan (Oktober-November)
Periode ideal untuk lahan tadah hujan tanpa irigasi. Penanaman dilakukan awal musim hujan (curah hujan sudah cukup untuk melembabkan tanah sedalam 20 cm). Keuntungan: kebutuhan air terpenuhi alami, biaya irigasi rendah. Risiko: serangan hama lalat bibit dan penyakit bulai lebih tinggi karena kelembaban tinggi.

Peralihan Musim Hujan-Kemarau (Maret-April)
Cocok untuk lahan dengan sistem irigasi memadai. Fase vegetatif mendapat cukup air hujan, sementara fase generatif dan panen berlangsung di musim kemarau yang memudahkan pengeringan. Produktivitas cenderung lebih tinggi dengan serangan bulai lebih rendah.

Musim Kemarau (Juni-Juli)
Hanya untuk lahan irigasi teknis dengan ketersediaan air terjamin. Kelebihan: tekanan hama-penyakit minimal, kualitas biji superior, pengeringan optimal. Kekurangan: biaya irigasi tinggi, kompetisi air dengan tanaman lain.

Pola Tanam Serempak
Dalam radius 1 km, penanaman jagung sebaiknya dilakukan serempak dengan selisih waktu maksimal 2 minggu. Tujuannya memutus siklus hidup hama (terutama lalat bibit dan penggerek tongkol) dan menekan penyebaran penyakit bulai. Setelah panen, terapkan periode bebas tanaman jagung minimal 2 minggu hingga 1 bulan untuk sanitasi lahan.

3.2 Persiapan dan Perlakuan Benih

Seleksi Benih Berkualitas
Benih yang akan ditanam harus memenuhi standar mutu:

  • Daya berkecambah (germination rate) minimal 90%
  • Kadar air maksimal 12% untuk penyimpanan aman
  • Kemurnian fisik minimal 98%
  • Bebas dari benih gulma, kotoran, dan benih varietas lain
  • Ukuran seragam, tidak keriput, tidak berjamur

Untuk benih hibrida, WAJIB menggunakan benih bersertifikat (berlabel) dari penangkar resmi. Jangan tergiur harga murah dari sumber tidak jelas yang berisiko daya tumbuh rendah atau varietas tidak murni.

Perlakuan Benih (Seed Treatment)
Perlakuan benih sebelum tanam dapat meningkatkan perkecambahan dan melindungi dari serangan hama-penyakit awal:

  1. Fungisida: Campurkan benih dengan fungisida berbahan aktif metalaksil atau mankozeb dosis 2-3 gram/kg benih untuk mencegah penyakit bulai dan busuk biji. Kocok dalam wadah tertutup hingga merata, diamkan 30 menit sebelum tanam.
  2. Insektisida Sistemik: Untuk mencegah lalat bibit, gunakan insektisida berbahan aktif karbofuran (Furadan) atau klorpirifos dosis sesuai anjuran (biasanya 10-20 ml/kg benih). Perlakuan ini efektif melindungi kecambah hingga umur 2-3 minggu.
  3. Biofertilizer/PGPR: Aplikasi bakteri pelarut fosfat (Pseudomonas, Bacillus) atau mikoriza dapat meningkatkan serapan hara. Larutkan inokulan sesuai dosis anjuran, campurkan dengan benih, dan langsung tanam agar mikroba tidak mati.
  4. Perendaman: Untuk benih yang sudah lama disimpan (lebih 6 bulan), rendam dalam air biasa selama 6-12 jam untuk memacu perkecambahan, lalu tiriskan. Metode ini meningkatkan keseragaman tumbuh.

3.3 Sistem Jarak Tanam

Jarak tanam menentukan populasi tanaman per hektare yang berpengaruh langsung pada produktivitas. Prinsipnya: semakin sempit jarak tanam, populasi semakin tinggi, namun kompetisi antar tanaman meningkat. Harus ada keseimbangan antara jumlah tanaman dengan ketersediaan cahaya, air, dan hara.

Jarak Tanam Standar
Untuk varietas hibrida modern berukuran sedang:

  • 75 cm x 25 cm (1 biji/lubang) = 53.333 tanaman/ha
  • 70 cm x 20 cm (1 biji/lubang) = 71.428 tanaman/ha
  • 75 cm x 50 cm (2 biji/lubang) = 53.333 tanaman/ha
  • 70 cm x 40 cm (2 biji/lubang) = 71.428 tanaman/ha

Jagung varietas lokal atau komposit berukuran lebih besar memerlukan jarak lebih lebar: 90-100 cm x 40-50 cm untuk menghindari persaingan berlebihan.

Sistem Jajar Legowo
Modifikasi jarak tanam yang terbukti meningkatkan produktivitas 10-15% dengan memanfaatkan efek tanaman pinggir. Pola yang umum:

  • Legowo 2:1 → 2 baris tanam – 1 baris kosong (lorong)
  • Legowo 4:1 → 4 baris tanam – 1 baris kosong

Contoh legowo 2:1 dengan jarak dalam baris 25 cm:

  • Jarak dalam barisan (antar tanaman): 25 cm
  • Jarak antar baris dalam kelompok: 50 cm
  • Jarak lorong (baris kosong): 100 cm

Keuntungan: semua tanaman mendapat efek pinggir (penyinaran optimal), lorong memudahkan aplikasi pestisida dan pemupukan, populasi dapat ditingkatkan 15-20% tanpa kompetisi berlebih.

Sistem Tanam Zig-Zag
Posisi tanaman pada baris berseberangan tidak sejajar vertikal, melainkan zig-zag sehingga setiap tanaman mendapat ruang lebih optimal tanpa saling menaungi. Cocok untuk jarak tanam sempit guna meningkatkan populasi tanpa menurunkan produktivitas per tanaman.

3.4 Teknik Penanaman

Pembuatan Lubang Tanam

  • Gunakan tugal atau alat tanam (jang) untuk membuat lubang sedalam 3-5 cm
  • Kedalaman ideal 4 cm – terlalu dangkal membuat benih mudah terbawa air/dimakan burung, terlalu dalam memperlambat perkecambahan
  • Jika menggunakan mulsa plastik (silver-black), lubangi sesuai jarak tanam dengan diameter 10-15 cm

Cara Menanam

  1. Masukkan 1-2 biji per lubang (untuk antisipasi daya tumbuh tidak 100%)
  2. Tutup lubang dengan tanah gembur tipis (1-2 cm), jangan dipadatkan berlebihan
  3. Pada tanah berat atau kondisi lembab tinggi, taburi abu sekam/pupuk kandang halus di atas lubang untuk mencegah kerak tanah yang menghambat kecambah menembus permukaan
  4. Jika kondisi tanah kering, lakukan pengairan ringan segera setelah tanam (siram/irigasi curah)

Waktu Penanaman
Sebaiknya dilakukan pagi hari (06.00-09.00) atau sore hari (15.00-17.00) saat suhu tidak terlalu panas dan kelembaban udara cukup tinggi untuk mengurangi stress kecambah. Hindari penanaman siang hari terik atau saat hujan deras karena benih dapat hanyut.

3.5 Penyulaman

Penyulaman adalah penggantian tanaman yang mati atau tidak tumbuh dengan bibit seumur agar pertumbuhan seragam. Dilakukan maksimal 7-10 hari setelah tanam (HST), melewati batas ini tanaman sulaman tidak akan mampu mengejar pertumbuhan tanaman utama sehingga produktivitasnya sangat rendah.

Persiapan Bibit Sulaman
Tanam benih di polybag atau pot kecil pada hari yang sama dengan penanaman di lahan utama. Tempatkan di lokasi teduh dengan penyiraman rutin. Saat penyulaman, keluarkan bibit dari polybag bersama media tanamnya, tanam di lubang yang sudah disiapkan, padatkan tanah di sekitar akar, dan siram segera.

Catatan Penting
Jangan lakukan penyulaman jika tingkat kematian di atas 20% – lebih baik tanam ulang seluruh lahan. Penyulaman hanya efektif untuk mengganti tanaman mati sporadis agar populasi optimal tercapai.

Bab 4: Pemeliharaan Tanaman

4.1 Pengairan (Irigasi)

Air adalah faktor pembatas utama produktivitas jagung. Meski tergolong tanaman C4 yang efisien menggunakan air, ketersediaan air pada fase kritis sangat menentukan hasil.

Fase Kritis Kebutuhan Air

  1. Fase Perkecambahan (0-10 HST): Butuh kelembaban tanah 60-70% kapasitas lapang. Kekurangan air menyebabkan perkecambahan lambat dan tidak seragam. Siram 2-3 hari sekali atau saat tanah mulai kering.
  2. Fase Pertumbuhan Vegetatif (10-50 HST): Kebutuhan air meningkat seiring pertumbuhan daun. Siram 3-5 hari sekali tergantung curah hujan dan jenis tanah. Defisit air pada fase ini menyebabkan tanaman kerdil dan daun menguning.
  3. Fase Pembungaan (50-65 HST): Periode PALING KRITIS! Defisit air 2-3 hari saja dapat menyebabkan:
    • Asynchronous flowering (bunga jantan muncul lebih dulu, bunga betina terlambat sehingga tidak terjadi penyerbukan)
    • Tongkol kosong atau pengisian biji tidak sempurna
    • Kehilangan hasil 40-50%

Siram setiap 2-3 hari, jaga kelembaban tanah 70-80% kapasitas lapang.

  1. Fase Pengisian Biji (65-90 HST): Defisit air menyebabkan biji keriput, bobot ringan, dan kualitas rendah. Siram 4-5 hari sekali.

Metode Irigasi

  • Irigasi Curah/Surface: Air dialirkan melalui saluran dan merembes ke lahan. Cocok untuk lahan datar, efisiensi rendah (50-60%).
  • Irigasi Tetes (Drip): Paling efisien (85-90%), menghemat air, dan mengurangi penyakit daun. Investasi awal tinggi namun cocok untuk lahan kering atau air terbatas.
  • Irigasi Sprinkler: Efisiensi sedang (70-80%), cocok untuk lahan bergelombang, memerlukan tekanan air cukup.

Drainase
Jagung tidak tahan genangan lebih dari 24 jam. Pastikan saluran drainase (parit) berfungsi baik untuk mengalirkan kelebihan air saat hujan deras. Pada lahan bedengan, periksa parit antar bedengan tidak tersumbat gulma atau endapan lumpur.

4.2 Pemupukan

Pemupukan berimbang adalah kunci produktivitas tinggi. Prinsip 4T harus diterapkan: Tepat Jenis, Tepat Dosis, Tepat Waktu, dan Tepat Cara.

Dosis Rekomendasi Umum untuk Jagung Hibrida
  • Urea: 300-450 kg/ha
  • SP-36: 100-150 kg/ha atau TSP 100-125 kg/ha
  • KCl: 50-100 kg/ha
  • Atau menggunakan pupuk majemuk NPK Phonska/NPK 15-15-15: 300-400 kg/ha

Dosis disesuaikan berdasarkan:

  1. Hasil analisis tanah (uji tanah)
  2. Target produktivitas (semakin tinggi target, kebutuhan hara lebih besar)
  3. Sisa hara dari tanaman sebelumnya
  4. Penggunaan pupuk organik
Jadwal dan Cara Aplikasi

Pemupukan I (7-10 HST)
Saat tanaman berumur 1 minggu (fase 3-4 daun):

  • Urea: 1/3 dosis (100-150 kg/ha)
  • SP-36: seluruh dosis (100-150 kg/ha)
  • KCl: seluruh dosis (50-100 kg/ha)

Cara aplikasi: Buat alur sedalam 5-7 cm di sisi barisan tanaman dengan jarak 7-10 cm dari batang, taburkan pupuk, tutup dengan tanah, dan siram. Jangan menaburkan pupuk terlalu dekat batang karena dapat membakar akar halus.

Pemupukan II (30-35 HST)
Saat tanaman berumur 1 bulan (fase 8-10 daun, menjelang pembungaan):

  • Urea: 2/3 dosis sisa (200-300 kg/ha)

Cara aplikasi: Sama dengan pemupukan I, namun jarak dari batang diperlebar menjadi 10-15 cm karena sistem perakaran sudah berkembang. Pastikan tanah lembab saat pemupukan untuk mempercepat penyerapan.

Pemupukan Tambahan (Jika Diperlukan)
Untuk target produktivitas sangat tinggi (>10 ton/ha) atau tanah miskin hara, dapat ditambahkan pemupukan III pada umur 45-50 HST (awal pembungaan) dengan Urea 50-100 kg/ha atau pupuk daun NPK tinggi.

Pupuk Organik Cair (POC) dan Pupuk Daun
Aplikasi POC atau pupuk daun (foliare) sebagai pelengkap dapat meningkatkan vigor tanaman dan ketahanan terhadap stress:

  • POC: Aplikasi 2-4 kali (umur 14, 28, 42, 56 HST) dengan dosis 2-5 liter/ha diencerkan dalam 200-400 liter air, semprot merata ke tajuk tanaman pagi atau sore hari
  • Pupuk daun NPK: Aplikasi 2-3 kali pada fase kritis dengan dosis sesuai anjuran produsen (umumnya 2-3 kg/ha)

4.3 Pengendalian Gulma

Gulma berkompetisi dengan jagung dalam memperebutkan cahaya, air, hara, dan ruang tumbuh. Periode kritis kompetisi gulma adalah 20-40 HST, di mana tanaman jagung paling rentan terhadap persaingan. Kehilangan hasil akibat gulma dapat mencapai 30-50% jika tidak dikendalikan.

Pengendalian Mekanis

  • Penyiangan I: Umur 15-20 HST menggunakan kored/cangkul dangkal atau hand weeder, sekaligus dilakukan pembumbunan ringan (menimbun pangkal batang dengan tanah) untuk memperkuat perakaran
  • Penyiangan II: Umur 30-35 HST bersamaan pemupukan kedua, sekaligus pembumbunan lebih tinggi (10-15 cm) untuk mencegah rebah

Hindari penyiangan terlalu dalam (>10 cm) karena dapat merusak sistem perakaran jagung yang sebagian besar tersebar di lapisan 0-30 cm.

Pengendalian Kimiawi (Herbisida)
Herbisida dapat menghemat biaya tenaga kerja, namun harus digunakan dengan bijak sesuai dosis dan waktu aplikasi:

  1. Herbisida Pra Tumbuh (Pre-emergence)

    Aplikasi 0-3 hari setelah tanam sebelum gulma tumbuh:
    • Atrazine 500 g/l: 1,5-2,0 liter/ha
    • Metolachlor: 2-3 liter/ha
    • Alachlor: 2-3 liter/ha

Semprot merata ke permukaan tanah lembab. Efektif menekan pertumbuhan gulma berdaun lebar dan rumput-rumputan hingga 30-40 hari.

  1. Herbisida Pasca Tumbuh (Post-emergence)

    Aplikasi saat gulma sudah tumbuh (umur gulma 2-4 minggu):
    • Paraquat diklorida: 1-2 liter/ha (herbisida kontak, hanya membunuh bagian yang terkena semprot)
    • 2,4-D: 0,5-1,0 liter/ha (sistemik, untuk gulma berdaun lebar)
    • Glyphosate: 1-2 liter/ha (sistemik total, hati-hati jangan kena tanaman jagung)

Gunakan nozel pelindung atau konis saat aplikasi untuk menghindari drift ke tanaman jagung. Semprot pagi hari (06.00-09.00) saat tidak ada angin dan gulma tidak stress air.

Mulsa
Penggunaan mulsa jerami, sekam, atau mulsa plastik hitam-perak (MPHP) sangat efektif menekan gulma sekaligus menjaga kelembaban tanah. MPHP juga dapat meningkatkan suhu tanah 2-3°C dan mengurangi serangan hama tanah. Aplikasi mulsa organik dengan ketebalan 5-10 cm setelah tanaman berumur 2 minggu.

4.4 Pengendalian Hama Terpadu (PHT)

Serangan hama dapat menurunkan produktivitas 20-80% atau bahkan gagal panen. Pendekatan PHT mengintegrasikan berbagai metode pengendalian untuk menekan populasi hama di bawah ambang ekonomi dengan dampak lingkungan minimal.

Hama Utama dan Pengendalian

1. Lalat Bibit (Atherigona exigua)
Hama paling merusak pada fase awal (1-3 minggu setelah tanam). Larva menggerek batang muda dan merusak titik tumbuh, menyebabkan tanaman layu, kerdil, hingga mati. Kehilangan hasil bisa mencapai 80%.

Gejala: Daun menguning, lubang gerekan pada batang dekat permukaan tanah, tanaman kerdil atau mati.

Pengendalian:

  • Kultur Teknis: Tanam serempak untuk memutus siklus hidup, geser waktu tanam menghindari puncak populasi hama (biasanya 1-2 bulan awal musim hujan), sanitasi lahan dari sisa tanaman
  • Varietas Tahan: Gunakan varietas toleran seperti Lamuru atau Sukmaraga
  • Seed Treatment: Perlakuan benih dengan insektisida sistemik karbofuran (Furadan) 10-15 g/kg benih
  • Hayati: Introduksi parasitoid Opius sp. dan Tetrastichus sp., predator laba-laba Clubiona japonicola
  • Kimiawi: Aplikasi insektisida berbahan aktif klorpirifos (Dursban 20 EC) 2 ml/liter atau karbofuran granular (Furadan 3G) 10-20 kg/ha ditabur di lubang tanam

2. Penggerek Batang (Ostrinia furnacalis, Sesamia inferens)
Larva menggerek batang dari luar ke dalam, membuat liang sepanjang ruas batang. Tanaman terserang mudah rebah, pertumbuhan terhambat, tongkol busuk.

Gejala: Lubang gerekan pada batang, serbuk hasil gerekan (frass) berwarna cokelat di sekitar lubang, batang mudah patah.

Pengendalian:

  • Kultur Teknis: Kumpulkan dan musnahkan sisa tanaman pasca panen, tanam serempak, rotasi dengan non-inang
  • Hayati: Aplikasi Trichogramma spp. (parasitoid telur) 5-10 lembar/ha pada umur 2, 4, 6 minggu setelah tanam, Bacillus thuringiensis (Bt) 1-2 kg/ha
  • Kimiawi: Karbofuran 3G 15-20 kg/ha atau insektisida berbahan aktif klorpirifos, karbosulfan aplikasi saat gejala awal terlihat

3. Ulat Grayak (Spodoptera litura, S. frugiperda)

S. frugiperda (Fall Armyworm/FAW) adalah hama invasif yang dilaporkan di Indonesia sejak 2019, sangat rakus dan cepat menyebar. Larva memakan daun, batang muda, hingga tongkol.

Gejala: Daun berlubang atau tinggal tulang daun, kotoran ulat seperti serbuk gergaji, larva bersembunyi di pucuk atau lipatan daun.

Pengendalian:

  • Mekanis: Kumpulkan dan musnahkan kelompok telur dan larva muda, pasang perangkap feromon seks untuk monitoring populasi
  • Hayati: Trichogramma spp., Metarhizium anisopliae, predator Staphylinidae, aplikasi Bt
  • Kimiawi: Rotasi insektisida berbahan aktif berbeda untuk menghindari resistensi: emamektin benzoat, klorfenapir, spinetoram, siantraniliprol. Semprot saat populasi larva masih muda (instar 1-2) untuk efektivitas maksimal.

4. Penggerek Tongkol (Helicoverpa armigera)
Larva masuk melalui rambut jagung dan menggerek biji di dalam tongkol, menyebabkan busuk dan penurunan kualitas biji.

Gejala: Lubang pada ujung tongkol, biji berlubang dan busuk, kotoran ulat di dalam tongkol.

Pengendalian:

  • Kultur Teknis: Varietas dengan kelobot rapat dan panjang lebih tahan serangan
  • Kimiawi: Aplikasi insektisida setelah terbentuk rambut jagung pada tongkol dengan interval 3-4 hari (2-3 kali aplikasi): deltametrin, sipermetrin, atau klorpirifos. Gunakan nozel bertekanan tinggi agar insektisida masuk ke rambut jagung.

5. Ulat Tanah (Agrotis ipsilon)
Aktif malam hari, memotong batang tanaman muda (1-3 minggu) setinggi permukaan tanah.

Gejala: Batang terpotong, tanaman roboh dan mati, larva bersembunyi di tanah dekat tanaman pada siang hari.

Pengendalian:

  • Kultur Teknis: Pengolahan tanah sempurna untuk membunuh pupa dan larva, sanitasi gulma yang menjadi inang alternatif
  • Mekanis: Kumpulkan larva saat senja/malam hari menggunakan senter
  • Hayati: Bacillus thuringiensis, Beauvaria bassiana, parasitoid Trichogramma spp.
  • Kimiawi: Furadan 3G 15-20 kg/ha ditabur di lubang tanam atau kocor insektisida klorpirifos ke lubang bekas tanaman yang mati
Prinsip Pengendalian Kimiawi yang Bertanggung Jawab
  • Lakukan monitoring populasi hama rutin 2 kali per minggu untuk deteksi dini
  • Aplikasi pestisida HANYA saat populasi melampaui ambang ekonomi
  • Gunakan dosis sesuai anjuran label, jangan dikurangi atau ditambah
  • Rotasi bahan aktif berbeda untuk menghindari resistensi
  • Perhatikan PHI (Pre-Harvest Interval) – waktu tunggu aman sebelum panen
  • Gunakan APD (Alat Pelindung Diri): masker, sarung tangan, sepatu boot
  • Aplikasi pagi hari (06.00-09.00) atau sore hari (15.00-17.00) saat angin lemah

4.5 Pengendalian Penyakit Terpadu

Penyakit Utama dan Pengendalian

1. Bulai (Peronosclerospora maydis, P. philippinensis, P. sorghii)
Penyakit paling merusak pada jagung di Indonesia dengan potensi kehilangan hasil hingga 100% pada varietas rentan.

Gejala Khas:

  • Tanaman muda (1-2 minggu): Daun runcing sempit kaku, klorotik memanjang sejajar tulang daun, lapisan spora putih seperti tepung di permukaan bawah daun (jelas terlihat pagi hari)
  • Tanaman dewasa: Garis-garis cokelat pada daun tua, pertumbuhan kerdil, tongkol tidak terbentuk atau kecil dan kosong

Pengendalian:

  • Kultur Teknis: Tanam awal musim hujan (kelembaban tidak terlalu tinggi), tanam serempak, periode bebas tanam 2-4 minggu antar musim, sanitasi tanaman terserang dengan ERADIKASI (cabut dan bakar/kubur jauh dari lahan)
  • Varietas Tahan: Srikandi, Lamuru, Gumarang, Bima 20 URI (toleran)
  • Seed Treatment: Metalaksil 2-3 g/kg benih atau mankozeb 3-4 g/kg benih
  • Kimiawi: Aplikasi fungisida metalaksil (Ridomil 35 SD) 2-3 g/liter saat tanaman 1-2 minggu, ulang 7-10 hari kemudian bila kondisi kondusif (hujan terus menerus)

PENTING: Tanaman terinfeksi bulai sistemik TIDAK AKAN MENGHASILKAN tongkol meski sembuh. Eradikasi adalah tindakan wajib untuk menyelamatkan tanaman sehat di sekitarnya.

2. Hawar Daun (Helminthosporium turcicum, Bipolaris maydis)
Penyakit daun yang berkembang cepat pada kondisi lembab tinggi.

Gejala: Bercak memanjang bentuk ellips/kumparan berwarna hijau kelabu hingga cokelat pada daun, bercak meluas dan menyatu menyebabkan hawar (daun mengering seperti terbakar).

Pengendalian:

  • Kultur Teknis: Rotasi tanaman non-inang, sanitasi sisa tanaman terinfeksi, jarak tanam tidak terlalu rapat untuk sirkulasi udara baik
  • Varietas Tahan/Toleran: Gunakan varietas dengan tingkat toleransi baik
  • Kimiawi: Aplikasi fungisida mankozeb (Dithane M-45) 2 g/liter atau azoksistrobin saat gejala awal terlihat, ulang 7-10 hari. Semprot merata ke seluruh permukaan daun.

3. Busuk Batang (Fusarium spp., Gibberella spp.)
Penyakit yang menyerang pasca pembungaan, terutama pada varietas rentan dan kondisi kelembaban tinggi.

Gejala: Daun layu dan mengering tiba-tiba meski tidak ada cekaman air, pangkal batang berubah warna dari hijau ke cokelat, bagian dalam batang busuk berongga, warna merah jambu/cokelat pada jaringan vaskular, tanaman mudah rebah.

Pengendalian:

  • Kultur Teknis: Rotasi dengan non-inang, drainase baik, hindari pemupukan N berlebihan (balance dengan K)
  • Hayati: Aplikasi Trichoderma spp. saat pengolahan tanah dan umur 2-4 minggu
  • Varietas Toleran: Pilih varietas dengan ketahanan lebih baik
  • Kimiawi: Preventif dengan fungisida berbahan aktif tembaga atau mankozeb, namun efektivitas terbatas karena patogen sudah sistemik saat gejala terlihat

4. Karat Daun (Puccinia sorghi, P. polysora)
Penyakit daun yang sering muncul menjelang panen.

Gejala: Pustula kecil berwarna cokelat kemerahan (uredinia) pada kedua permukaan daun, pustula pecah mengeluarkan spora seperti tepung karat, infeksi berat menyebabkan daun mengering prematur.

Pengendalian:

  • Kultur Teknis: Sanitasi sisa tanaman, varietas tahan
  • Kimiawi: Aplikasi fungisida berbahan aktif mankozeb, azoksistrobin, atau triazol saat gejala awal
Prinsip Umum Pengendalian Penyakit
  • Gunakan benih sehat bersertifikat dan lakukan seed treatment
  • Pilih varietas tahan/toleran sebagai fondasi
  • Praktikkan kultur teknis yang sehat: rotasi, sanitasi, drainase baik, jarak tanam optimal
  • Monitoring rutin untuk deteksi dini
  • Aplikasi fungisida preventif lebih efektif daripada kuratif
  • Eradikasi tanaman terinfeksi penyakit sistemik (bulai)

Bab 5: Panen dan Penanganan Pasca Panen

5.1 Penentuan Saat Panen Optimal

Waktu panen sangat menentukan kualitas dan rendemen biji jagung. Panen terlalu dini menghasilkan biji muda dengan kadar air tinggi, susut pengeringan besar, dan kualitas rendah. Panen terlalu lambat menyebabkan kehilangan hasil akibat serangan hama gudang, jamur di lahan, atau tongkol jatuh tercecer.

Ciri-Ciri Jagung Siap Panen untuk Pipilan Kering
  • Umur tanaman: Varietas genjah 75-85 hari, sedang 85-95 hari, dalam 95-120 hari (sesuai deskripsi varietas)
  • Kelobot (klobot) tongkol mengering dan berwarna kuning kecoklatan
  • Biji jagung mengeras (fase physiological maturity), mengkilap, dan melekat kuat pada tongkol
  • Terbentuk lapisan hitam (black layer) pada ujung biji minimal 50-75% dari total biji per tongkol – ini indikator fisiologis paling akurat bahwa akumulasi bahan kering telah maksimal
  • Kadar air biji sekitar 30-35% (basah panen)
  • Daun tanaman sebagian besar (60-80%) sudah menguning dan mengering
  • Batang mulai mengering namun belum rapuh
Ciri-Ciri Jagung Manis Siap Panen
  • Umur: 60-75 hari setelah tanam tergantung varietas
  • Rambut jagung berwarna cokelat kering
  • Kulit kelobot masih hijau segar (belum mengering)
  • Biji jagung berisi penuh, bila ditekan keluar cairan seperti susu (fase milk stage hingga early dough)
  • Kadar gula maksimal pada fase ini
  • Panen pagi hari segera setelah embun kering untuk kesegaran optimal

5.2 Cara Panen

Panen Manual (Tradisional)
Tongkol dipetik dengan tangan atau alat pemetik (dongkel), dilakukan dengan memutar tongkol hingga terlepas dari batang. Kelobot dapat dipanen bersama tongkol (jagung klobot) atau dikupas langsung di lahan (jagung tanpa klobot/cob corn).

Keuntungan: Selektif (hanya tongkol matang yang dipetik), kerusakan fisik biji minimal, cocok untuk lahan kecil dan bergelombang. Kerugian: Tenaga kerja besar, biaya panen tinggi (15-20% biaya produksi total), lambat.

Panen Mekanis (Semi/Full Mechanized)
Menggunakan combine harvester yang dapat memetik tongkol, memipil, dan membersihkan dalam satu operasi. Jagung langsung dihasilkan dalam bentuk biji pipilan.

Keuntungan: Cepat, efisien, biaya per kg rendah untuk skala besar. Kerugian: Investasi alat mahal, perlu lahan luas dan datar, risiko kehilangan hasil 3-5% akibat tongkol tercecer atau biji rusak.

5.3 Penanganan Pasca Panen

Penanganan pasca panen yang buruk dapat menyebabkan susut kuantitas 20-30% dan penurunan kualitas drastis. Rangkaian proses pasca panen yang benar akan mempertahankan mutu dan meminimalkan kerugian.

1. Pengangkutan ke Tempat Pengeringan
Segera setelah dipetik, tongkol diangkut ke tempat penjemuran/pengeringan menggunakan karung, keranjang, atau gerobak. Hindari menumpuk tongkol terlalu tinggi dan terlalu lama di lahan karena dapat memicu pemanasan (heating) dan serangan jamur. Maksimal 6-12 jam setelah panen, tongkol harus sudah mulai dikeringkan.

2. Pengeringan (Drying)
Tujuan pengeringan adalah menurunkan kadar air biji dari 30-35% (saat panen) menjadi 12-14% (aman untuk penyimpanan dan perdagangan). Pada kadar air 14%, aktivitas enzim dan mikroorganisme terhambat sehingga biji dapat disimpan 4-6 bulan tanpa kerusakan signifikan.

Metode Pengeringan

A. Penjemuran Matahari (Sun Drying)
Metode paling ekonomis dan umum digunakan petani.

Prosedur:

  • Tongkol dijemur di atas lantai jemur semen, terpal, atau tikar di atas tanah kering
  • Ketebalan hamparan 1 tongkol (tidak bertumpuk) untuk pengeringan seragam
  • Waktu penjemuran optimal: pukul 08.00-15.00 (hindari siang panas terik >12.00 yang dapat menyebabkan biji pecah)
  • Balik tongkol setiap 2-3 jam agar pengeringan merata
  • Durasi pengeringan: 4-7 hari hingga kadar air 17-18% (untuk tongkol klobot) atau 3-5 hari hingga 14% (untuk biji pipilan langsung)
  • Pada sore hari atau saat mendung/hujan, kumpulkan dan tutup dengan terpal untuk mencegah peningkatan kadar air kembali

Keuntungan: Biaya rendah, tidak perlu energi tambahan, sederhana. Kerugian: Tergantung cuaca (tidak bisa dilakukan saat musim hujan), pengeringan lambat, risiko kontaminasi kotoran/debu tinggi, susut akibat burung/tikus.

B. Pengeringan Mekanis (Mechanical Drying)
Menggunakan mesin pengering (dryer) dengan sumber panas dari bahan bakar (solar, gas, sekam, kayu bakar) atau listrik.

Jenis Dryer:

  • Bed Dryer: Kapasitas kecil-menengah (100-500 kg), cocok untuk petani atau kelompok tani
  • Batch Dryer: Kapasitas sedang (1-3 ton), proses batch per batch
  • Continuous Flow Dryer: Kapasitas besar (5-20 ton/jam), operasi kontinyu, cocok untuk industri

Parameter Pengeringan:

  • Suhu udara pengering: 40-60°C (untuk benih maksimal 40-43°C agar viabilitas tidak rusak)
  • Kelembaban relatif udara: 40-50%
  • Laju penurunan kadar air: Maksimal 1-2% per jam untuk menghindari stress biji (cracking)
  • Waktu pengeringan: 4-8 jam tergantung kadar air awal, suhu, dan kapasitas alat

Keuntungan: Tidak tergantung cuaca, cepat, pengeringan seragam, kontaminasi minimal, cocok untuk musim hujan. Kerugian: Investasi dan biaya operasional tinggi, memerlukan keahlian operasional, risiko over-drying bila tidak dipantau.

C. Pengeringan dengan Pengasapan (Smoking)
Metode tradisional untuk jagung klobot, dilakukan dengan menggantung tongkol di atas tungku asap setinggi 80-150 cm. Sumber asap dari pembakaran sekam, tongkol jagung, atau kayu bakar tanpa api langsung. Lama pengeringan 7-10 hari dari kadar air 30% menjadi 14%. Metode ini dapat digunakan saat musim hujan sebagai alternatif, namun efisiensi rendah dan biji cenderung berubah warna kecoklatan.

3. Pemipilan (Shelling)
Tujuan: Memisahkan biji dari tongkol agar mudah ditangani, diangkut, dan disimpan.

Pemipilan Manual
Menggunakan tangan langsung dengan memutar dan menekan tongkol kering. Cocok untuk volume kecil (< 500 kg).

Keuntungan: Tingkat kerusakan biji rendah (< 2%), kehilangan hasil minimal, dapat dilakukan kapan saja. Kerugian: Lambat (1 orang mampu memipil 30-50 kg/hari), tenaga kerja besar, biaya mahal untuk volume besar.

Pemipilan Mekanis
Menggunakan alat pemipil jagung (corn sheller) tipe manual (hand operated), motor listrik, atau mesin diesel. Kapasitas 200-2.000 kg/jam tergantung tipe dan ukuran alat.

Keuntungan: Cepat, efisien, biaya per kg rendah, dapat memipil dalam kondisi kadar air lebih tinggi (18-20%). Kerugian: Investasi alat, tingkat kerusakan biji lebih tinggi (3-5%), kotoran lebih banyak sehingga perlu pembersihan tambahan.

Syarat Pemipilan Optimal:

  • Kadar air tongkol 17-20% (tidak terlalu basah yang menyebabkan biji sulit lepas, tidak terlalu kering yang membuat biji pecah)
  • Kecepatan pemipil disesuaikan kondisi tongkol (tidak terlalu cepat)
  • Segera setelah dipipil, biji dikeringkan lanjutan hingga kadar air 12-14%

4. Pembersihan dan Sortasi (Cleaning & Grading)
Setelah dipipil, biji jagung masih bercampur kotoran (sisa tongkol, kulit biji, debu, biji hampa, biji rusak). Pembersihan dilakukan dengan:

  • Manual: Tampah/ayakan tradisional untuk memisahkan kotoran ringan yang terbawa angin
  • Mekanis: Mesin pembersih (cleaner) dengan sistem screening (ayakan bertingkat) dan blower (hembusan angin) untuk memisahkan berdasarkan ukuran dan berat jenis

Sortasi/grading memisahkan biji berdasarkan kualitas:

  • Grade A: Biji utuh sehat, ukuran seragam, warna cerah, kadar air 12-14%
  • Grade B: Biji utuh, warna agak kusam, campuran ukuran
  • Grade C/reject: Biji pecah, hampa, berubah warna, berjamur

Biji grade A mendapat harga premium, sedangkan grade C hanya cocok untuk pakan atau diolah lebih lanjut.

5. Penyimpanan (Storage)
Tujuan penyimpanan adalah mempertahankan kualitas biji selama periode waktu tertentu sebelum dijual atau digunakan. Faktor yang mempengaruhi keamanan penyimpanan:

  • Kadar air biji (12-14%)
  • Suhu penyimpanan (sejuk, di bawah 25°C ideal)
  • Kelembaban relatif ruangan (<70%)
  • Kebersihan gudang dan sanitasi hama

Metode Penyimpanan

A. Penyimpanan dalam Karung
Biji jagung dimasukkan dalam karung plastik (polypropylene/PP), karung goni, atau karung plastik berlapis dalam (inner liner). Kapasitas karung 50-60 kg.

Prosedur:

  • Biji harus benar-benar kering (kadar air maksimal 14%)
  • Karung disimpan di gudang beralas pallet kayu setinggi 10-15 cm dari lantai untuk sirkulasi udara dan mencegah kelembaban naik dari lantai
  • Susunan karung dibuat lorong inspeksi lebar 50 cm setiap 10 tumpukan untuk monitoring hama dan sirkulasi udara
  • Tinggi tumpukan maksimal 10-12 karung tergantung kekuatan karung
  • Jarak tumpukan dengan dinding minimal 50 cm

Keuntungan: Mudah dilakukan, investasi rendah, fleksibel untuk volume kecil-menengah. Kerugian: Rentan serangan serangga gudang (kumbang bubuk, kutu beras), tikus, memerlukan fumigasi berkala, suhu dan kelembaban sulit dikontrol.

B. Penyimpanan Curah (Bulk Storage)
Biji jagung disimpan dalam silo/bin logam atau beton berkapasitas besar (5-500 ton).

Komponen silo modern:

  • Sistem aerasi paksa (forced aeration) dengan blower untuk menurunkan suhu biji 3-5°C di bawah suhu ambient dan mengurangi kelembaban
  • Sensor suhu dan kelembaban otomatis
  • Sistem fumigasi terintegrasi
  • Sistem bongkar-muat pneumatik atau conveyor

Keuntungan: Efisien untuk volume besar, pengendalian kondisi penyimpanan optimal, susut rendah, fumigasi lebih efektif. Kerugian: Investasi sangat tinggi, memerlukan keahlian khusus, cocok untuk skala industri atau koperasi besar.

6. Perawatan Selama Penyimpanan

Aerasi
Dilakukan dengan mensirkulasikan udara luar (saat suhu rendah dan kelembaban rendah, biasanya malam atau pagi hari) melalui tumpukan biji untuk menurunkan suhu dan kelembaban. Aerasi mengurangi respirasi biji, mencegah perkecambahan, menghilangkan bau apek, dan menekan perkembangan hama-penyakit. Lakukan aerasi 2-4 jam/hari selama 3-5 hari pertama penyimpanan, selanjutnya seminggu sekali atau saat suhu dalam tumpukan naik >30°C.

Fumigasi
Aplikasi pestisida fumigan (berbentuk gas) untuk membunuh serangga gudang pada semua stadia (telur, larva, pupa, dewasa). Fumigan yang umum digunakan:

  • Phosphine (PH3): Tablet atau pelet aluminum phosphide yang bereaksi dengan udara lembab menghasilkan gas phosphine. Dosis 2-3 tablet/ton biji, masa fumigasi 3-7 hari dalam kondisi kedap udara (ditutup terpal plastik atau di dalam ruang kedap). Efektif membunuh semua stadia hama.
  • Methyl bromide: Gas langsung, sangat efektif namun berbahaya bagi lingkungan (merusak lapisan ozon) sehingga penggunaannya terbatas dan memerlukan izin khusus.

Prosedur fumigasi:

  1. Pastikan kadar air biji <14% dan biji bersih (fumigasi tidak efektif pada biji lembab atau kotor)
  2. Letakkan fumigan (tablet phosphine) di beberapa titik di dalam tumpukan atau karung
  3. Tutup rapat dengan terpal plastik kedap gas, tekan ujung terpal dengan karung berisi pasir
  4. Pasang tanda peringatan “FUMIGASI – BAHAYA RACUN”
  5. Biarkan selama 3-7 hari tanpa dibuka
  6. Setelah selesai, buka terpal dan angin-anginkan (aerasi) selama 1-2 hari sebelum biji digunakan agar residu gas hilang
  7. Gunakan APD lengkap (masker respirator khusus phosphine, sarung tangan) saat fumigasi

Frekuensi fumigasi: 1 kali sebelum penyimpanan (preventif), ulang setiap 3-4 bulan sekali atau saat terdeteksi serangan hama.

Monitoring Berkala
Lakukan inspeksi gudang dan biji minimal 2 minggu sekali:

  • Cek suhu dalam tumpukan biji (gunakan termometer batang panjang) – bila >30°C, lakukan aerasi atau pindahkan
  • Cek kadar air biji (gunakan moisture tester) – bila naik >14%, keringkan ulang
  • Cek keberadaan serangga hidup, webbing (jaring laba-laba serangga), atau biji berlubang
  • Cek kebocoran atap, genangan air, atau kerusakan karung
  • Cek jejak/kotoran tikus dan pasang perangkap

Sanitasi Gudang

  • Bersihkan gudang kosong sebelum penyimpanan: sapu bersih sisa biji lama, semprotkan insektisida ke dinding dan lantai
  • Perbaiki kerusakan atap, dinding, pintu untuk mencegah rembesan air atau masuknya hama
  • Tutup lubang-lubang yang dapat dilalui tikus dengan semen atau kawat
  • Jaga kebersihan lingkungan sekitar gudang dari tumpukan sampah yang menjadi sarang hama

5.4 Pengemasan dan Pemasaran

Pengemasan
Biji jagung kering dikemas sesuai tujuan pemasaran:

  • Karung plastik PP: 50 kg/karung untuk pasar lokal atau industri pakan
  • Karung berlapis dalam (inner liner): Untuk penyimpanan lama atau biji benih
  • Zak kapasitas kecil: 5-10 kg untuk konsumen rumah tangga
  • Bulk: Untuk industri besar, diangkut menggunakan truk tangki atau kontainer

Pastikan kemasan dalam kondisi bersih, kering, dan kuat. Beri label berisi: nama komoditas, varietas (jika diketahui), berat bersih, tanggal produksi, dan nama produsen/kelompok tani.

Strategi Pemasaran
Pasar jagung di Indonesia terbagi beberapa segmen dengan harga berbeda:

  1. Industri Pakan Ternak: Pasar terbesar (70-75% kebutuhan nasional). Spesifikasi: kadar air maksimal 14%, aflatoksin <20 ppb, kotoran <2%. Harga relatif stabil, pembayaran sistem kontrak.
  2. Industri Makanan-Minuman: Memerlukan jagung kualitas premium, kadar air 12-13%, bebas aflatoksin, biji utuh tanpa pecah. Harga 10-20% lebih tinggi.
  3. Konsumsi Langsung (Jagung Manis, Jagung Bakar): Pasar segar, marjin tinggi namun perishable (mudah rusak). Perlu cold chain dan distribusi cepat.
  4. Benih: Pasar dengan margin tertinggi, memerlukan sertifikasi dan standar ketat.

Tingkatkan posisi tawar dengan:

  • Menjaga konsistensi kualitas (grade A)
  • Membangun kemitraan langsung dengan industri (sistem kontrak)
  • Bergabung dalam kelompok tani untuk bargaining power lebih kuat
  • Manfaatkan informasi harga pasar (Sistem Informasi Pasar Pertanian/SIPAP) untuk timing jual optimal
  • Pertimbangkan penyimpanan saat harga rendah (panen raya) untuk dijual saat harga naik (paceklik)

Bab 6: Sistem Perbenihan dan Pembibitan Jagung

6.1 Produksi Benih Jagung Berkualitas

Benih adalah input produksi paling menentukan keberhasilan usaha tani. Penggunaan benih bermutu dapat meningkatkan produktivitas 20-30% dibanding benih biasa. Untuk varietas hibrida, benih HARUS dibeli setiap musim dari penangkar resmi karena tidak dapat ditanam ulang (vigor menurun drastis generasi F2). Namun untuk varietas komposit/bersari bebas, petani dapat memproduksi benih sendiri.

Syarat Benih Bermutu

  • Mutu Genetik: Varietas murni sesuai deskripsi, tidak tercampur varietas lain
  • Mutu Fisiologis: Daya berkecambah >90%, vigor tinggi (kecambah kuat tumbuh cepat)
  • Mutu Fisik: Biji besar seragam, bernas, bersih dari kotoran/benih lain, tidak rusak/retak
  • Mutu Patologis: Bebas hama penyakit benih (jamur, bakteri, virus), aflatoksin <20 ppb

Tahapan Produksi Benih Komposit

1. Pemilihan Lahan
Lahan untuk produksi benih harus memenuhi kriteria lebih ketat:

  • Isolasi jarak minimal 300 meter dari pertanaman jagung lain (varietas berbeda) untuk mencegah outcrossing (penyerbukan silang)
  • Belum pernah ditanami jagung varietas lain musim sebelumnya
  • Tingkat kesuburan baik, drainase sempurna, bebas penyakit bulai

2. Sumber Benih Dasar (Foundation Seed)
Gunakan benih sumber dari Balai Penelitian (Balitsereal) atau penangkar benih berlabel FS (Foundation Seed) untuk menjamin kemurnian genetik. Jangan menggunakan benih dari pertanaman produksi biasa sebagai sumber.

3. Budidaya Intensif
Terapkan seluruh tahapan budidaya optimal (persiapan lahan sempurna, pemupukan berimbang, pengendalian OPT ketat) untuk menghasilkan benih vigor tinggi. Pemupukan ditingkatkan 10-20% dari dosis standar.

4. Roguing (Pembersihan Tanaman Tidak Dikehendaki)
Lakukan 3 kali roguing:

  • Roguing I (Fase Vegetatif, 4-6 minggu): Buang tanaman yang pertumbuhannya menyimpang (terlalu tinggi/pendek, daun berbeda warna/bentuk, batang abnormal) dan tanaman terserang penyakit (terutama bulai)
  • Roguing II (Fase Pembungaan, 8-9 minggu): Buang tanaman dengan tipe bunga jantan/betina tidak sesuai deskripsi varietas, tanaman berbeda waktu berbunga (sangat lambat/cepat)
  • Roguing III (Menjelang Panen): Buang tanaman dengan tongkol tidak sesuai standar (terlalu kecil, bentuk tidak normal, biji tidak seragam)

Tanaman hasil roguing HARUS dibuang keluar lahan dan dimusnahkan (jangan dikembalikan ke lahan). Standar maksimal tanaman off-type yang masih bisa ditoleransi: 0,5% (5 tanaman per 1.000 tanaman).

5. Panen Selektif
Hanya tongkol yang memenuhi kriteria dipanen untuk benih:

  • Tongkol dari tanaman sehat, vigor, posisi tengah batang
  • Ukuran besar, isi penuh, biji seragam
  • Bebas serangan hama penggerek tongkol dan penyakit
  • Panen pada umur tepat waktu (physiological maturity)

Tongkol yang tidak memenuhi kriteria (terlalu kecil, rusak, biji tidak seragam) dipisahkan sebagai jagung konsumsi/pakan.

6. Pengeringan Khusus untuk Benih


Suhu pengeringan benih TIDAK BOLEH melebihi 40-43°C karena suhu tinggi dapat merusak viabilitas (daya hidup) benih. Gunakan metode penjemuran matahari atau pengering mekanis suhu rendah. Kadar air target: 9-11% untuk penyimpanan lama (>6 bulan) atau 12% untuk penyimpanan pendek (<3 bulan).

7. Sortasi dan Grading Benih
Benih disortir berdasarkan ukuran dengan ayakan bertingkat atau mesin grader. Benih ukuran seragam (large, medium, small dipisah) menghasilkan perkecambahan dan pertumbuhan seragam di lapangan. Buang biji hampa, pecah, keriput, dan berubah warna.

8. Perlakuan dan Pengemasan Benih
Sebelum dikemas, benih diberi seed treatment fungisida+insektisida sesuai prosedur. Benih dikemas dalam kemasan kedap udara (aluminum foil atau plastik HDPE tebal berlapis) dengan dosis 1-2 kg per kemasan untuk mencegah penyerapan kelembaban udara. Beri label berisi: nama varietas, kelas benih (FS/ES/BR), berat bersih, daya berkecambah, tanggal produksi, tanggal kadaluarsa.

9. Penyimpanan Benih
Simpan dalam ruang bersuhu sejuk (10-15°C ideal) dan kelembaban rendah (<50% RH). Untuk penyimpanan panjang (>1 tahun), gunakan ruang ber-AC atau cold storage. Lakukan uji daya kecambah setiap 3 bulan untuk monitoring mutu benih.

6.2 Persyaratan Sertifikasi Benih

Untuk memasarkan benih secara resmi, diperlukan sertifikasi dari Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih (BPSB) setempat. Persyaratan yang harus dipenuhi:

  • Lahan memenuhi isolasi dan rotasi tanaman
  • Sumber benih tertelusur (dari benih kelas lebih tinggi)
  • Proses roguing dilakukan dengan benar dan didokumentasikan
  • Hasil laboratorium memenuhi standar: Daya berkecambah >90%, kemurnian fisik >98%, kotoran <2%, kadar air <12%
  • Proses produksi diawasi oleh pengawas benih resmi

Kelas benih yang diakui:

  • Benih Penjenis (Breeder Seed/BS): Diproduksi oleh pemulia/institusi penelitian
  • Benih Dasar (Foundation Seed/FS): Keturunan langsung dari BS
  • Benih Pokok (Stock Seed/SS): Keturunan dari FS (khusus jagung hibrida sebagai tetua)
  • Benih Sebar (Extension Seed/ES) atau Benih Berlabel (BR): Untuk petani

Petani penangkar benih komposit umumnya menghasilkan kelas ES/BR.

Bab 7: Pola Tanam dan Diversifikasi Usaha

7.1 Sistem Tumpang Sari Jagung

Tumpang sari (intercropping) adalah penanaman dua atau lebih jenis tanaman dalam lahan dan waktu sama untuk meningkatkan efisiensi penggunaan lahan, cahaya, air, dan hara. Pola ini cocok untuk lahan kecil dengan sumber daya terbatas.

Prinsip Tumpang Sari yang Baik

  • Tanaman berbeda periode kritis kebutuhan hara, air, dan cahaya sehingga tidak berkompetisi hebat
  • Tanaman berbeda sistem perakaran (dalam vs dangkal)
  • Salah satu tanaman legum (kacang-kacangan) untuk memperbaiki kesuburan tanah
  • Tanaman utama (jagung) mendapat prioritas ruang dan input

Pola Tumpang Sari yang Direkomendasikan

1. Jagung + Kacang Tanah
Pola paling umum dan menguntungkan. Kacang tanah ditanam 1-2 minggu setelah jagung dalam barisan di antara barisan jagung.

  • Jarak tanam jagung: 100 cm x 40 cm (1 biji/lubang)
  • Jarak tanam kacang tanah: 40 cm x 15 cm (2 biji/lubang) dalam barisan antara jagung
  • Land Equivalent Ratio (LER): 1,3-1,6 (artinya dengan lahan 1 ha tumpang sari setara hasil dari 1,3-1,6 ha monokultur)
  • Jagung dipanen umur 90-100 hari, kacang tanah umur 90-95 hari

Keuntungan: Kacang tanah menambah nitrogen tanah melalui fiksasi N2 dari udara, mengurangi erosi dengan menutup permukaan tanah, petani mendapat dua hasil panen sekaligus.

2. Jagung + Kedelai
Mirip dengan pola jagung-kacang tanah.

  • Jarak tanam jagung: 100 cm x 30-40 cm
  • Jarak tanam kedelai: 40 cm x 15 cm dalam barisan antara jagung
  • LER: 1,2-1,5
  • Panen jagung umur 90-100 hari, kedelai umur 75-85 hari

3. Jagung + Kacang Hijau
Cocok untuk lahan kering dengan curah hujan terbatas.

  • Pola penanaman sama dengan kacang tanah
  • Kacang hijau umur sangat pendek (55-65 hari) sehingga dipanen lebih dulu sebelum jagung
  • LER: 1,1-1,4

4. Jagung + Ubi Kayu (Cassava)
Pola untuk ketahanan pangan rumah tangga.

  • Ubi kayu ditanam bersamaan atau 2 minggu sebelum jagung dengan jarak 100-150 cm x 100 cm
  • Jagung ditanam 2 baris di antara barisan ubi dengan jarak 50 cm x 25 cm
  • Jagung dipanen umur 90-100 hari, ubi kayu 8-10 bulan kemudian
  • Setelah jagung panen, ubi kayu tumbuh leluasa hingga panen

5. Jagung + Tanaman Perkebunan (Kelapa Sawit, Jati, Kopi Muda)
Pada tahun pertama penanaman tanaman perkebunan (saat tanaman masih kecil dan belum produktif), lahan sela dapat dimanfaatkan untuk jagung guna menambah pendapatan petani. Jarak tanam disesuaikan dengan spacing tanaman perkebunan. Pola ini disebut tumpang sisip (alley cropping).

7.2 Sistem Tumpang Gilir (Sequential Cropping)

Penanaman lebih dari satu jenis tanaman dalam satu lahan secara berurutan dalam satu tahun. Cocok untuk lahan irigasi dengan ketersediaan air sepanjang tahun.

Pola yang Umum:

  • Padi (musim hujan) → Jagung (musim kemarau) → Palawija (kacang/sayuran)
  • Jagung (MH) → Jagung (MK1) → Kacang tanah/Kedelai (MK2)
  • Jagung → Bawang Merah → Kacang Hijau

Keuntungan: Memaksimalkan produktivitas lahan (3-4 kali panen/tahun), diversifikasi pendapatan, rotasi tanaman memutus siklus hama-penyakit.

7.3 Diversifikasi Produk Olahan Jagung

Untuk meningkatkan nilai tambah, jagung dapat diolah menjadi berbagai produk:

Produk Pangan

  • Tepung jagung/maizena: Bahan baku industri makanan dan minuman
  • Beras jagung (corn grits): Substitusi beras, tinggi serat
  • Popcorn: Dari varietas jagung popcorn khusus
  • Corn flakes: Sereal sarapan
  • Jagung manis kalengan: Produk awetan
  • Susu jagung, puding jagung, bubur jagung

Produk Pakan

  • Jagung giling/crumble: Pakan ternak
  • Silase jagung: Pakan fermentasi dari seluruh bagian tanaman (batang+daun+tongkol) untuk sapi perah

Produk Industri

  • Minyak jagung: Dari ekstraksi biji, untuk minyak goreng dan bahan baku margarin
  • Sirup jagung (High Fructose Corn Syrup/HFCS): Pemanis industri minuman
  • Bioetanol: Bahan bakar nabati dari fermentasi pati jagung
  • Pakan ikan/udang: Formulasi khusus dari jagung+bahan lain

Pemanfaatan Limbah

  • Tongkol jagung: Bahan bakar alternatif, media jamur (jamur tiram), bahan baku arang briket
  • Batang dan daun jagung: Pakan ternak (silase atau segar), kompos, mulsa
  • Kelobot jagung: Kerajinan tangan (tas, tempat pensil, hiasan), bahan pembungkus makanan tradisional

Membangun kemitraan dengan industri pengolahan atau mengolah sendiri (home industry) dapat meningkatkan margin keuntungan 50-200% dibanding menjual dalam bentuk biji pipilan kering biasa.

Mind Map Cara Bisnis Pertanian Jagung

Mind Map Cara Bisnis Pertanian Jagung
Cara Bisnis Pertanian Jagung

Penutup

Budidaya jagung yang sukses memerlukan pendekatan holistik dan sistematis mulai dari pemilihan varietas unggul sesuai kondisi lahan, persiapan lahan optimal, penanaman dengan jarak tanam tepat, pemeliharaan intensif (irigasi, pemupukan berimbang, pengendalian OPT terpadu), panen pada waktu optimal, hingga penanganan pasca panen yang meminimalkan susut dan menjaga kualitas.

Penerapan teknologi modern seperti precision agriculture, sistem irigasi efisien, dryer mekanis, dan penggunaan varietas unggul terbaru dapat meningkatkan produktivitas hingga 2-3 kali lipat dibanding metode tradisional. Namun, teknologi harus disesuaikan dengan skala usaha dan kemampuan investasi petani – tidak selalu teknologi tercanggih yang paling cocok, namun yang paling sesuai konteks lokal.

Kunci keberhasilan jangka panjang adalah pembelajaran dan perbaikan berkelanjutan: selalu evaluasi hasil setiap musim, catat data produktivitas dan biaya, identifikasi masalah, dan terapkan solusi adaptif. Bergabung dalam kelompok tani dan memanfaatkan pendampingan penyuluh pertanian akan mempercepat proses pembelajaran dan membuka akses terhadap informasi teknologi, pasar, dan permodalan.

Selamat berbudidaya jagung dan semoga panduan ini bermanfaat untuk meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan!

Facebook Twitter/X WhatsApp Telegram LinkedIn