Bisnis Budidaya Gandum Tropis: Panduan dari Penelitian hingga Panen

Daftar Isi

Rangkuman Berita

[01] H. Nehru – Desa Jenetallasa, Jeneponto: Konsistensi Budidaya Gandum Tropis Berjangka Panjang

H. Nehru dari Desa Jenetallasa, Kecamatan Rumbia, Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan menanam gandum sejak 2011 hingga 2020 di lahan seluas 12 are berlokasi di Balewang yang berada di ketinggian 1.000 mdpl. Selama menanam gandum, Nehru mendapatkan pendampingan dari tim Balitsereal mulai dari cara menanam, pemberian pupuk, hingga pemanenan.

Insight Pembelajaran

• Pentingnya konsistensi dan komitmen jangka panjang dalam mengembangkan komoditas baru seperti gandum tropis • Gandum ternyata memiliki tingkat kesulitan budidaya yang lebih rendah dibandingkan jagung dengan input pestisida yang minimal

• Kunci sukses adalah menjalin kemitraan strategis dengan lembaga penelitian seperti Balitsereal untuk pendampingan teknis • Memulai dengan skala kecil (12 are) namun konsisten dapat membuka peluang menjadi pemasok benih nasional

Tanggal & Link Sumber: 10 Mei 2022 – https://fpp.umko.ac.id/2022/05/10/potensi-tanaman-gandum-di-indonesia/

[02] Dr. Djoko Murdono – UKSW Salatiga: Inovasi Mekanisasi untuk Efisiensi Biaya Produksi

Dr. Djoko Murdono, peneliti gandum dari Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga, telah lebih dari 20 tahun berkutat dengan tanaman gandum. Dia mengembangkan inovasi mekanisasi untuk menurunkan biaya produksi gandum agar kompetitif dengan harga internasional. Djoko mampu mengolah satu hektare gandum hanya dengan dua petani melalui mekanisasi.

Insight Pembelajaran

• Inovasi teknologi dan mekanisasi adalah kunci untuk membuat budidaya gandum Indonesia kompetitif secara ekonomi • Substitusi input mahal seperti pupuk kandang dengan alternatif yang lebih murah (humic acid) dapat meningkatkan profitabilitas

• Pengembangan skala industri memerlukan integrasi teknologi mulai dari mesin tanam hingga sistem panen yang terintegrasi • Peluang diversifikasi lahan perkebunan (sawit) memberikan alternatif lahan yang luas untuk pengembangan gandum nasional

Tanggal & Link Sumber: 16 Agustus 2022 – https://www.voaindonesia.com/a/pakar-gandum-indonesia-potensial-tetapi-belum-kompetitif-/6703229.html

[03] UPT P3K Kabupaten Pasuruan: Pionir Penghasil Gandum Pertama Indonesia

UPT Pusat Pengembangan Perbenihan Kentang (P3K) di Desa Ngadiwono, Kabupaten Pasuruan berhasil mengembangkan dan membudidayakan salah satu varian gandum asal Australia di lahan seluas 4 hektar. Proyek ini menjadi satu-satunya proyek budidaya gandum di Indonesia yang berhasil, dan Kabupaten Pasuruan menjadi daerah penghasil gandum pertama di Indonesia.

Insight Pembelajaran

• Menjadi first mover dalam komoditas baru membuka peluang menjadi pemasok eksklusif ke industri besar seperti Bogasari • Diversifikasi dari komoditas utama (kentang) ke gandum menunjukkan pentingnya adaptasi dan inovasi dalam agribisnis

• Kemitraan dengan industri pengolah memberikan kepastian pasar dan harga yang menguntungkan • Pengembangan kapasitas sebagai penyedia bibit nasional menciptakan revenue stream tambahan yang berkelanjutan

Tanggal & Link Sumber: 15 Februari 2019 – https://www.terakota.id/menilik-kampung-gandum-di-lereng-bromo/ & https://kominfo.jatimprov.go.id/berita/20495

[04] Universitas Andalas: Penelitian Gandum Tropis dengan Kemitraan Internasional

Universitas Andalas mengembangkan penelitian gandum sejak 2011 bekerja sama dengan OSIVO, perusahaan benih dari Republik Slowakia. Penelitian dilakukan di Nagari Alahan Panjang, Kecamatan Lembah Gumanti, Kabupaten Solok dengan luas lahan fluktuatif pernah 3 hektare dan kadang kurang dari satu hektare.

Insight Pembelajaran

• Kemitraan internasional membuka akses terhadap teknologi dan varietas unggul yang tidak tersedia domestik • Penelitian berkelanjutan di perguruan tinggi menjadi fondasi pengembangan agroindustri skala komersial

• Diversifikasi produk olahan (roti, bubur gandum) menciptakan value added yang meningkatkan profitabilitas • Lokasi dengan ketinggian optimal (1.620 mdpl) memberikan produktivitas yang kompetitif (3-5 ton/ha)

Tanggal & Link Sumber: 3 Agustus 2019 – https://www.jurnalistravel.com/ladang-gandum-juga-ada-di-indonesia/

[05] Franciscus Welirang – Aptindo: Tantangan Riset dan Pengembangan Industri Gandum

Ketua Asosiasi Produsen Tepung Terigu Indonesia (Aptindo) Franciscus Welirang menyoroti minimnya riset gandum di Indonesia meskipun negara menjadi pengimpor gandum terbesar dunia dengan impor 7,4 juta ton pada 2015 dan 5,4 juta ton pada semester pertama 2016. “Gandum memang sudah menjadi bahan pangan alternatif, tetapi riset tanaman gandum belum banyak.

Insight Pembelajaran

• Gap antara demand industri yang besar (7,4 juta ton) dengan kapasitas riset domestik yang terbatas menciptakan peluang bisnis R&D • Konsistensi dalam riset jangka panjang (seperti UKSW) memberikan positioning yang kuat dalam ekosistem industri

• Keterlibatan asosiasi industri dalam mendukung riset membuka peluang funding dan kemitraan strategis • Pengembangan teknologi pengolahan pasca panen menjadi kunci untuk membuat gandum lokal layak secara ekonomi

Tanggal & Link Sumber: 9 September 2016 – https://regional.kompas.com/read/2016/09/09/06372211/aptindo.minim.riset.membuat.budidaya.gandum.sulit.dilakukan.di.indonesia

[06] Menteri Pertanian Andi Amran: Dukungan Pemerintah untuk Ekspansi Gandum Jeneponto

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mendukung pengembangan proyek penelitian gandum mahasiswa Universitas Hasanuddin di Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan. Mentan menantang mahasiswa untuk menanam 100 hektare pada tahun berikutnya dan bahkan berharap bisa mencapai 500 hektare.

Insight Pembelajaran

• Dukungan regulasi dan anggaran pemerintah menjadi katalisator penting untuk scaling up agribisnis inovatif • Keterlibatan perguruan tinggi dalam penelitian menciptakan kredibilitas yang menarik perhatian pembuat kebijakan

• Target ekspansi yang ambisius (dari penelitian kecil ke 500 hektare) memerlukan perencanaan bisnis yang matang dan bertahap • Koordinasi multi-stakeholder (Kementan, universitas, pemda) penting untuk sustainability proyek agribisnis skala besar

Tanggal & Link Sumber: 13 Desember 2018 – https://ekonomi.republika.co.id/berita/ekonomi/pertanian/18/12/13/pjo8d6383-mentan-minta-pertanian-gandum-dikembangkan-di-jeneponto

[07] PT Bogasari Flour Mills: Dominasi Pasar Tepung Terigu dengan Integrasi Vertikal

PT Bogasari Flour Mills yang didirikan pada 1969 berfungsi sebagai pengolah gandum menjadi tepung terigu dan menjadi bagian dari PT Indofood Sukses Makmur sejak 1995. Bogasari meluncurkan tiga merek produk perdana yaitu Cakra Kembar, Segitiga Biru, dan Kunci Biru. Perusahaan ini menguasai pasar tepung terigu Indonesia dengan strategi integrasi vertikal, dimana BULOG bertindak sebagai importir gandum dan distributor tepung terigu.

Insight Pembelajaran

• Integrasi vertikal dari impor bahan baku hingga distribusi produk jadi menciptakan competitive advantage yang sulit ditandingi • Positioning sebagai pembeli tunggal gandum lokal memberikan kontrol penuh atas supply chain domestik

• Diversifikasi merek produk (Cakra Kembar, Segitiga Biru, Kunci Biru) memungkinkan segmentasi pasar yang optimal • Kemitraan strategis dengan BULOG menciptakan barrier to entry yang tinggi bagi kompetitor baru

Tanggal & Link Sumber: 2 Februari 2023 – https://entrepreneur.bisnis.com/read/20230202/265/1624013/daftar-pengusaha-yang-kuasai-pasar-tepung-terigu-di-indonesia

[08] PT Bungasari Flour Mills: Strategi Joint Venture Internasional

PT Bungasari Flour Mills Indonesia merupakan perusahaan patungan antara Toyota Tsusho Corp (30%) dari Jepang, FKS Group (40%) dari Indonesia, dan Malayan Flour Mills Bhd (30%) dari Malaysia. Perusahaan mulai beroperasi pada 2014 dengan kapasitas produksi 2.600 MT/hari dan 686.400 MT/tahun (tepung terigu) serta 858.000 MT/tahun (gandum).

Insight Pembelajaran

• Joint venture internasional memberikan akses terhadap teknologi canggih, modal, dan expertise yang tidak dimiliki domestik • Pemilihan lokasi strategis dekat pelabuhan dan pasar konsumen utama optimasi biaya logistik dan distribusi

• Kombinasi partner dari berbagai negara (Jepang-Malaysia-Indonesia) menciptakan sinergi komplementer yang kuat • Investasi dalam R&D dan teknologi canggih menjadi differentiator dalam industri tepung terigu yang kompetitif

Tanggal & Link Sumber: 8 Februari 2022 – https://www.cdmione.com/perusahaan-tepung-terigu/

[09] PT Sriboga Raturaya: Transformasi dari Produsen Tunggal ke Holding Company

PT Sriboga Raturaya berdiri pada 1995 sebagai pelopor dalam memproduksi terigu bernilai gizi tinggi di Indonesia, kemudian pada 2011 melakukan pemisahan usaha menjadi unit usaha PT Sriboga Flour Mill. PT Sriboga Raturaya berubah menjadi induk perusahaan yang menaungi berbagai anak perusahaan di bidang restoran (Pizza Hut, Marugame Udon), perguruan tinggi (Sekolah Bisnis IPMI), dan industri tepung.

Insight Pembelajaran

• Transformasi dari single business ke holding company memberikan stabilitas revenue dan mengurangi risiko ketergantungan satu industri • Spesialisasi dalam terigu bernilai gizi tinggi menciptakan niche market dengan margin yang lebih baik

• Diversifikasi ke sektor downstream (restoran) dan supporting industry (pendidikan bisnis) menciptakan ecosystem yang saling mendukung • Inovasi produk terigu khusus memberikan competitive advantage dalam pasar yang semakin tersegmentasi

Tanggal & Link Sumber: 8 Februari 2022 – https://www.cdmione.com/perusahaan-tepung-terigu/

[10] Petani Tosari Pasuruan: Tantangan Ekonomi Budidaya Gandum vs Sayuran

Petani di Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan menghadapi dilema ekonomi antara budidaya gandum dan sayuran. Luas lahan gandum terus menyusut dari 150 hektare pada 2007 menjadi hanya 25 hektare karena produktifitas dan nilai ekonomis lebih rendah dibandingkan tanaman sayuran seperti kentang. Tanaman kentang membutuhkan modal Rp 50 juta per hektare namun memberikan keuntungan Rp 20 juta, sedangkan gandum bermodal Rp 12 juta hanya menghasilkan keuntungan Rp 3-8 juta.menguntungkan.

Insight Pembelajaran

• Analisis komparatif keuntungan per hektare menjadi faktor penentu utama pilihan komoditas petani praktis • Produktivitas tinggi tidak otomatis berarti profitabilitas tinggi tanpa dukungan harga yang memadai

• Diperlukan intervensi kebijakan harga atau subsidi untuk membuat gandum kompetitif dengan komoditas alternatif • Pengembangan value chain dan teknologi pasca panen menjadi kunci untuk meningkatkan nilai ekonomi gandum lokal

Tanggal & Link Sumber: 15 Februari 2019 – https://www.terakota.id/menilik-kampung-gandum-di-lereng-bromo/

[11] Balai Penelitian Tanaman Serealia: Koordinasi Riset dan Pengembangan Varietas Nasional

Balai Penelitian Tanaman Serealia (Balitsereal) di Maros, Sulawesi Selatan menjadi pusat penyedia benih tanaman serealia termasuk gandum sejak 2001. Balitsereal telah melepas varietas Nias dan Timor (1993), Selayar (2003), dan Dewata (2004) dengan produktivitas rata-rata 2,0-2,96 ton/ha. Lembaga ini melakukan uji multi lokasi tersebar di Jawa Timur, Bogor, Jawa Tengah, Bengkulu, dan Maros sejak 2012.

Insight Pembelajaran

• Lembaga riset nasional berperan strategis sebagai backbone pengembangan teknologi dan varietas unggul untuk industri gandum • Konsistensi riset jangka panjang (sejak 2001) diperlukan untuk menghasilkan breakthrough dalam adaptasi tanaman subtropis

• Pendekatan multi-lokasi testing memastikan varietas yang dilepas sesuai dengan kondisi agroekologi Indonesia yang beragam • Transfer teknologi langsung ke petani melalui pendampingan teknis menjadi jembatan antara riset dan adopsi komersial

Tanggal & Link Sumber: 10 Mei 2022 – https://fpp.umko.ac.id/2022/05/10/potensi-tanaman-gandum-di-indonesia/

[12] Mahasiswa Universitas Hasanuddin: Inovasi Riset Gandum dari Kampus

Mahasiswa pertanian Universitas Hasanuddin melakukan proyek penelitian pengembangan tanaman gandum di Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan yang menarik perhatian Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman. Menteri sangat tertarik dengan hasil penelitian mahasiswa dan menantang untuk mengembangkan dari skala penelitian kecil menjadi 100 hektare bahkan 500 hektare.

Insight Pembelajaran

• Riset tingkat mahasiswa dapat menjadi gateway untuk mendapatkan dukungan kebijakan dan anggaran pemerintah • Pendekatan akademis yang kredible lebih mudah menarik perhatian dan dukungan stakeholder utama

• Scaling up dari riset kecil ke komersial memerlukan dukungan institutional yang kuat dari perguruan tinggi dan pemerintah • Generasi muda menjadi motor inovasi dalam pengembangan agribisnis non-konvensional seperti gandum tropis

Tanggal & Link Sumber: 13 Desember 2018 – https://makassar.antaranews.com/berita/106559/mentan-minta-pertanian-gandum-dikembangkan-di-jeneponto

[13] Konsorsium Gandum Indonesia: Kolaborasi Multi-Stakeholder untuk Pengembangan Industri

Pemerintah membentuk konsorsium gandum yang terdiri dari perguruan tinggi, Balai Penelitian Tanaman Serealia, dan pelaku usaha untuk mengembangkan budidaya gandum nasional. Konsorsium melakukan uji multi lokasi sejak 2012 yang tersebar di Jawa Timur, Bogor, Jawa Tengah, Bengkulu, dan Maros dengan fokus pada daerah ketinggian lebih dari 1.000 meter di atas permukaan laut.

Insight Pembelajaran

• Model konsorsium multi-stakeholder memaksimalkan sinergi antara riset, teknologi, dan implementasi bisnis praktis • Keterlibatan tenaga ahli internasional mempercepat learning curve dan adopsi best practices global

• Koordinasi nasional melalui konsorsium mencegah duplikasi effort dan mengoptimalkan alokasi sumber daya • Sustainable development memerlukan komitmen jangka panjang dari berbagai pihak dengan kepentingan yang aligned

Tanggal & Link Sumber: 15 Februari 2019 – https://www.terakota.id/menilik-kampung-gandum-di-lereng-bromo/

[14] Petani Alahan Panjang Solok: Model Penelitian Terapan dengan Produk Value Added

Petani di Nagari Alahan Panjang, Kecamatan Lembah Gumanti, Kabupaten Solok mengembangkan budidaya gandum dalam program penelitian Universitas Andalas dengan ketinggian 1.620 mdpl. Hasil panen gandum tidak hanya dijual sebagai biji mentah tetapi diolah menjadi roti dan bubur gandum dengan citarasa yang lebih enak dibanding bubur kacang hijau karena ada rasa jagung.

Insight Pembelajaran

• Value-added processing (roti, bubur gandum) meningkatkan margin keuntungan dibanding penjualan biji mentah • Model penelitian terapan memungkinkan eksperimen produk dan pasar tanpa risiko investasi besar

• Siklus produksi 3 bulan memungkinkan multiple cropping dalam setahun untuk meningkatkan produktivitas lahan • Pengembangan produk olahan lokal menciptakan differensiasi dan mengurangi ketergantungan komoditas impor

Tanggal & Link Sumber: 3 Agustus 2019 – https://www.jurnalistravel.com/ladang-gandum-juga-ada-di-indonesia/

[15] PT Eastern Pearl Flour Mills: Strategi Fokus Industri Pengolahan Gandum

PT Eastern Pearl Flour Mills merupakan perusahaan tertutup yang didirikan pada 1972 bergerak dalam industri pengolahan biji gandum menjadi tepung terigu. Sebagai salah satu dari empat pengimpor resmi gandum di Indonesia bersama PT Bogasari Flour Mills, Sri Boga, dan Pangan Mas, Eastern Pearl memiliki posisi strategis dalam supply chain gandum nasional.

Insight Pembelajaran

• Strategi fokus pada core competency dapat menjadi competitive advantage dibanding model diversifikasi konglomerat • Status sebagai pengimpor resmi memberikan akses priviledge dan kontrol supply chain yang stabil

• Pengalaman panjang sejak 1972 menciptakan institutional knowledge dan network yang sulit ditandingi newcomer • Fokus pada B2B industrial market memberikan stabilitas revenue dibanding consumer market yang volatile

Tanggal & Link Sumber: 8 Februari 2022 – https://www.cdmione.com/perusahaan-tepung-terigu/

Mind Map Bisnis Budidaya Gandum (Wheat/Oats)

Mind Map Bisnis Budidaya Gandum (Wheat/Oats)
Bisnis Budidaya Gandum (Wheat/Oats)

Sekilas Panduan Teknis Pertanian Gandum (Wheat/Oats)

Bab 1: Pendahuluan dan Syarat Tumbuh Gandum di Indonesia

Gandum (Triticum aestivum) dan oat (Avena sativa) merupakan tanaman serealia dari famili Poaceae yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan di Indonesia. Tanaman gandum potensial di dataran tinggi berkisar ≥ 1000 m dpl di Indonesia, dengan hasil produktivitas gandum mencapai 5,4 ton/ha, hasil ini lebih tinggi dibandingkan negara Asia lain.

Syarat Tumbuh Gandum di Indonesia

Syarat Iklim:

  • Ketinggian optimal 800-1000 m dpl dengan curah hujan rata-rata 600-825 mm/tahun serta suhu optimal 20-25°C
  • Tingkat kelembaban mencapai 80-90% dengan lama penyinaran 9-12 jam/hari
  • Waktu tanam yang tepat untuk gandum adalah pada awal musim kemarau atau akhir musim hujan, yang pada sebagian besar wilayah di Pulau Jawa, Sumatera dan Sulawesi jatuh pada bulan April-Mei

Syarat Tanah:

  • Tanah subur dan remah dengan jenis tanah Andosol, Regosol, Latosol dan Aluvial
  • pH tanah 6,5-7,1 serta tanah yang gembur dan subur
  • Tanah yang tergenang tidak disukai oleh tanaman gandum
  • Solum tanah dalam dan gembur dengan bahan organik yang memadai

Bab 2: Pemilihan Varietas dan Pembibitan Gandum

Pemilihan Varietas Unggul

Balitbangtan telah melakukan penelitian dan perakitan varietas gandum tropis. Hasilnya adalah telah dilepas varietas Nias dan Timor pada tahun 1993, varietas Selayar pada tahun 2003, dan varietas Dewata pada tahun 2004. Jenis varietas yang telah banyak dikembangkan di Indonesia diantaranya Guri-1, Guri-2, Dewata, Ganesha, Selayar, dan Timor.

Kriteria Benih Unggul

Benih gandum yang baik adalah yang: 1) Berasal dari malai yang matang pada batang utama, 2) Mempunyai bentuk dan warna yang seragam, 3) Bebas dari hama dan penyakit, serta 4) Mempunyai bobot yang tinggi dan seragam.

Penyiapan Benih

  • Benih gandum mempunyai masa dormansi (masa istirahat) antara 0-4 bulan
  • Sebelum benih gandum digunakan terlebih dahulu dilakukan kegiatan perendaman dalam air
  • Bibit yang digunakan harus bibit bersertifikat dan diberi perlakuan dengan fungisida sebelum ditanam untuk mencegah serangan cendawan dan penyakit
  • Benih gandum berukuran besar menghasilkan kecambah yang lebih vigor dibandingkan benih berukuran kecil

Kebutuhan Benih

Kebutuhan benih per hektar 100 kg atau sama dengan 1 kg/100 m² dengan sistem larikan. Benih yang dibutuhkan yaitu 75-100 kg/ha dengan sistem tugal.

Bab 3: Pengolahan Lahan dan Persiapan Tanam

Pengolahan Tanah

Pengolahan tanah untuk tanaman gandum hampir sama dengan pada padi gogo atau palawija lainnya. Apabila memungkinkan, tanah diolah sempurna sampai gembur. Lahan dibersihkan dari gulma dan sisa tanaman sebelumnya, kemudian lahan dibajak atau dicangkul sedalam 25 cm. Tanah dicangkul sedalam 25-30 cm satu minggu sebelum tanam, kemudian dibiarkan, bila sebelumnya tanah diberakan maka pengolahan tanah dilakukan dua kali.

Pembuatan Bedengan

Sebaiknya lahan dibuat dalam bentuk bedengan dengan lebar 2 cm dan panjang menyesuaikan kondisi lahan. Jarak antar bedengan yang dianjurkan adalah 50 cm. Setelah tahapan pengolahan lahan dirasa cukup gembur dilajutkan dengan kegiatan pembuatan bedengan dengan lebar 200 cm dan panjang yang menyesuaikan luasan serta bentuk kontur tanah. Diantara bedengan dibuat selokan selebar 50 cm sedalam 25 cm.

Sistem Drainase

Lahan gandum harus disiapkan dengan melakukan pembajakan dan pencangkulan, pembersihan gulma, pembuatan drainase dengan kedalaman sekitar 25-30 cm, lebar 50 cm, dan jarak 2-3 meter. Saluran dibuat agar air tidak menggenang saat pengairan karena tanaman gandum tidak begitu suka lingkungan yang terlalu basah dan lembap.

Bab 4: Penanaman Gandum

Waktu Tanam

Waktu tanam yang baik untuk tanaman gandum dilakukan pada akhir musim hujan atau awal musim kemarau untuk lebih memaksimalkan hasil produksi panen. Waktu yang paling sesuai adalah di akhir musim hujan atau di awal kemarau karena suhu udaranya yang cocok untuk pertumbuhan gandum di Indonesia yaitu sekitar 28°C.

Teknik Penanaman

Setelah bedengan selesai dibuat maka selanjutnya adalah membuat alur/larikan pada bedengan. Kedalaman alur/larikan sekitar 5 cm dengan jarak antar larikan 25 cm. Teknik Penanaman dengan cara membuat alur atau larikan pada bedengan dengan jarak antara 25 cm. Benih yang akan ditanam terlebih dahulu dicampur terlebih dahulu dengan Dithane. Benih dimasukan dalam alur sedalam 3,5 cm dengan cara seretan.

Jarak Tanam

Jarak tanam yang digunakan adalah 20 cm × 10 cm atau 25 × 10 cm. Jarak tanam budidaya gandum yaitu 20 cm x 10 cm atau 25 cm x 10 cm. Tanah ditugal sedalam -/+ 5 cm, kemudian benih dimasukkan kedalam lubang 3-4 butir per lubang, kemudian ditutup kembali menggunakan tanah.

Perlakuan Awal

Selanjutnya benih disebar merata dalam larikan dan ditutup dengan tanah. Untuk mencegah hama maka sebelum ditutup dengan tanah, disekitar benih ditaburi Furadan secukupnya.

Bab 5: Pemeliharaan Tanaman

Pemupukan

Kebutuhan Pupuk: Kebutuhan pupuk gandum adalah urea 200 kg/ha, SP36 200 kg/ha serta KCl 100 kg/ha. Dosis pemberian pupuk dapat ditentukan oleh jumlah hara yang tersedia didalam tanah dengan pupuk organik 10 ton/ha, serta pupuk anorganik Urea 120-200 kg /ha, SP-36 150 kg/ha dan Kcl 70 kg /ha.

Jadwal Pemupukan: Pemupukan dilakukan 2 kali yaitu pada saat tanaman berumur ±10 hari setelah tanam (hst) sebanyak 100 kg urea, 100 kg SP36 dan 50 kg KCl. Pemupukan kedua dilakukan pada saat tanaman berumur ±30 hst dengan dosis yang sama yaitu 100 kg urea, 100 kg SP36 dan 50 kg Kcl.

Pemberian pupuk Urea diberikan sebanyak 2-3kali melalui tahapan pemberian I: 1/3 bagian bersama dengan pupuk SP-36 dan Kcl berbentuk pupuk majemuk. Pemberian II: 1/3 bagian saat bertunas sekitar 25-30 hari setelah tanam. Pemberian III: Sisanya pada saat pembentukan primordia bunga dalam mendorong pembentukan malai, butir gandum dan peningkatan protein.

Pengairan

Pengairan pertama dilakukan setelah benih ditanam hal ini, bertujuan agar benih berkecambah dan tumbuh dengan baik. Selanjutnya pengairan kedua dilakukan diumur 45-65 HST pada waktu fase bunting sampai keluar malai.

Gandum tergolong tanaman yang tidak memerlukan banyak air. Kisaran kebutuhan air per musim adalah 254-400 mm. Pemberian air dilakukan apabila tidak ada hujan, yaitu dengan cara menggenangi saluran disekeliling bedengan sehingga tanah di atas bedengan cukup lembab. Pemberian air dilakukan setiap 2-3 minggu.

Penyiangan Gulma

Penyiangan dilakukan sebanyak dua kali,yaitu pada umur 15 dan 28-30 hst. Penyiangan dilakukan secara manual (hand weeding). Penyiangan pertama dilakukan saat tanaman gandum memasuki umur tanam 1 bulan,dilanjutkan dengan penyiangan ke-2 dilakukan minggu ke-3 dari penyiangan pertama dan penyiangan ke-3 dilakukan tergantung dengan banyaknya dan tinggi populasi gulma.

Pengendalian Hama dan Penyakit

Hama dan penyakit utama yang banyak menyerang tanaman gandum adalah Ulat tanah, Aphids, Kepik hijau dan Jamur. Pengendalian hama utama tanaman gandum dilakukan dengan penanaman varietas tahan atau menggunakan pestisida carbamyl, carbofuran, dan deltametrin.

Bab 6: Panen dan Pasca Panen

Kriteria Panen

Gandum siap dipanen apabila 80% dari rumpun telah bermalai, batang dan daun telah menguning serta biji sudah mengeras. Umur panen bervariasi, antara 90-125 hari tergantung ketinggian tempat. Semakin tinggi tempat maka umur panennya juga semakin lama.

Tanaman gandum siap untuk dipanen ketika tanaman gandum telah memasuki umur ± 90 untuk dataran rendah, berumur ± 107 hari untuk dataran menengah, dan ± 112 hari untuk untuk dataran tinggi.

Ciri-ciri antara lain Sekam (lemma dan palea) yang menutupi biji gandum telah mengering, indikator keduan bila,biji gandum di gigit sudah terasa keras dengan kadar air biji antara 20-30%.

Waktu Panen

Panen sebaiknya dilakukan pada kondisi cuaca cerah untuk memudahkan proses perontokan biji.

Cara Panen

Panen dilakukan dengan sabit bergerigi. Selanjutnya malai dijemur dan dirontok dengan thresher khusus gandum, atau dapat juga dengan mesin thresher padi yang dimodifikasi terlebih dahulu.

Metode tradisional yaitu menggunakan sabit mengumpulkan gulungan-gulungan jerami gandum untuk dipisahkan dari bijinya menggunakan mesin serit. Metode kedua yaitu menggunakan mesin panen modern di mana wujudnya seperti mobil yang dijalankan pada lahan gandum.

Penanganan Pasca Panen

Setelah perontokan selanjutnya biji gandum dikeringkan dibawah sinar matahari atau mesin pengering sebelum diolah menjadi tepung terigu.

Aspek-aspek yang harus diperhatikan dalam penanganan pasca panen tanaman gandum: 1. Lokasi bangunan tempat penanganan pasca panen harus memenuhi persyaratan: bebas dari cemaran, tidak di daerah yang saluran pembuangan airnya buruk, harus dekat dengan sentra produksi, tidak dekat dengan perumahan penduduk.

Pengolahan Biji Gandum

Tepung terigu diperoleh dari hasil penggilingan biji gandum yang mengalami beberapa tahap pengolahan. Beberapa tahap proses pengolahan tersebut adalah tahap persiapan dan tahap penggilingan. Tahap persiapan meliputi proses pembersihan, pelembapan, dan pengondisian.

Bab 7: Teknologi Produksi Benih dan Pembenihan

Lokasi Produksi Benih

Lokasi produksi benih memiliki temperatur malam 15°C dan pada siang hari 26-28°C, tanah remah dan subur, pada waktu tanam masih ada curah hujan atau dapat diairi, pada waktu menjelang panen tidak ada hujan. Keadaan yang demikian dapat ditemukan pada dataran tinggi yang biasa ditanami sayur-sayuran.

Isolasi dan Rotasi Tanaman

Satu lokasi disarankan hanya satu varietas, untuk menghindari campuran dari varietas lain yang terjadi pada waktu panen, pengangkutan, prosessing benih. Apabila satu lokasi untuk dua atau lebih varietas maka jarak antara blok minimal 3 m.

Tanaman terdahulu sebaiknya bukan bekas pertanaman gandum dari varietas yang berbeda, untuk menjaga sisa-sisa biji yang dapat berkecambah kembali, lahan sebaiknya dibajak dan digaru ulang.

Standar Kualitas Benih

Sistem produksi benih gandum menekankan pada dua aspek yang menjadi persyaratan utama yaitu standar lapangan dan laboratorium. Kualitas benih harus lebih baik daripada kualitas biji.

Pemeliharaan Tanaman Induk

Takaran pupuk yang digunakan adalah 120-135 kg N, 50-72 kg P2O5 dan 50 kg K2O, bergantung pada tingkat kesuburan lahan produksi benih. Pupuk P dan K diberikan seluruhnya pada waktu tanam atau paling lambat 10 hari setelah tanam (HST).

Tanaman harus bersih dari gulma, gangguan gulma pada fase vegetatif dapat menurunkan hasil sampai 50%. Apabila tidak menggunakan herbisida pratumbuh maka tanaman disiangi pada umur 15 dan 30 HST.

Facebook Twitter/X WhatsApp Telegram LinkedIn