Panduan Lengkap Budidaya Jelai: Teknik, Peluang Bisnis, dan Analisis Keuntungan

Daftar Isi

Rangkuman Berita

[01] [GAGAL] Pemerintah Kalimantan Timur: Kegagalan Komersialisasi Jelai sebagai Alternatif Pangan

Pemerintah mengalokasikan anggaran untuk program percobaan penanaman jelai dengan target menjadikannya sebagai alternatif pengganti beras. Program dimulai dengan pendekatan teknologi budidaya dasar dan sosialisasi kepada petani setempat tentang potensi ekonomi tanaman jelai.

Insight Pembelajaran:

  • Insight untuk Pemula: Kesuksesan pertanian tidak hanya terletak pada produktivitas tinggi, tetapi juga pada kemampuan mengolah dan memasarkan hasil panen.
  • Insight untuk Pengembangan: Sebelum ekspansi, pastikan seluruh rantai nilai dari hulu ke hilir telah dikuasai dan memiliki pasar yang jelas.

Tanggal & Link: 2014, https://vivaborneo.com/07/tak-menjanjikan-tanaman-jelai-jadi-alternatif-pangan/

[02] [SUKSES] Dr. Djoko Murdono (UKSW): Inovasi Mekanisasi Gandum Tropis untuk Efisiensi Biaya

Mengembangkan sistem pertanian gandum terintegrasi dengan traktor empat roda, mendesain mesin tanam gandum, menghilangkan penggunaan pupuk kandang yang mahal dan menggantinya dengan pupuk berbahan batu bara (humic acid), serta mengoptimalkan penggunaan tenaga kerja menjadi hanya 2 petani per hektare.

Insight Pembelajaran:

  • Insight untuk Pemula: Inovasi teknologi tepat guna dapat mengubah komoditas yang tidak menguntungkan menjadi bisnis yang profitable.
  • Insight untuk Pengembangan: Investasi dalam riset dan pengembangan jangka panjang sangat penting untuk menciptakan keunggulan kompetitif.

Tanggal & Link: 16 Agustus 2022, https://www.voaindonesia.com/a/pakar-gandum-indonesia-potensial-tetapi-belum-kompetitif-/6703229.html

[03] [SUKSES] Adi Pramudya: Transformasi dari Kegagalan Bisnis ke Petani Sukses dengan Rempah

Memulai dengan komoditas singkong, belajar langsung dari petani selama 7 bulan. Kemudian beralih ke lengkuas setelah melihat potensi keuntungan 400% (modal Rp 1 juta, keuntungan Rp 4 juta per 1.000 meter). Mendirikan CV Anugrah Adi Jaya dan mengembangkan berbagai komoditas rempah.

Insight Pembelajaran:

  • Insight untuk Pemula: Kegagalan adalah bagian dari proses pembelajaran menuju kesuksesan, yang penting adalah tidak menyerah dan terus mencoba.
  • Insight untuk Pengembangan: Membangun ekosistem bisnis yang saling menguntungkan dengan petani lokal dapat menciptakan bisnis yang berkelanjutan.

Tanggal & Link: 5 Agustus 2015, https://marketing.co.id/adi-pramudya-sukses-dengan-bisnis-yang-tak-dilirik-anak-muda/

[04] [GAGAL] Petani Malaysia: Kegagalan Pengembangan Beras Hibrida Serupa dengan Tantangan Jelai

Malaysian Agriculture Research and Development Institution (MARDI) pada tahun 1998-1999 berusaha mengembangkan beras hibrida sebagai inovasi pertanian. Program ini didukung anggaran riset yang signifikan dan melibatkan ahli breeding terbaik.

Insight Pembelajaran:

  • Insight untuk Pemula: Tidak semua inovasi pertanian yang berhasil di tempat lain dapat diterapkan di kondisi iklim yang berbeda.
  • Insight untuk Pengembangan: Riset adaptasi iklim dan lingkungan lokal harus menjadi prioritas utama sebelum mengadopsi teknologi pertanian baru.

Tanggal & Link: 1998-1999, https://grain.org/en/article/34-hybrid-rice-in-asia-an-unfolding-threat

[05] [SUKSES] Australian Barley Industry: Model Bisnis Terintegrasi Senilai $1 Miliar

Western Australia mengembangkan industri jelai sebagai komoditas ekspor utama kedua setelah gandum. Dimulai dari visi menjadikan jelai sebagai komoditas bernilai tinggi dengan pasar internasional yang stabil.

Insight Pembelajaran:

  • Insight untuk Pemula: Integrasi vertikal dari produksi hingga pengolahan dapat meningkatkan nilai tambah secara signifikan.
  • Insight untuk Pengembangan: Diversifikasi pasar dan produk (malting vs feed grade) penting untuk mengurangi risiko dan mengoptimalkan pendapatan.

Tanggal & Link: 2024, https://www.agric.wa.gov.au/barley/western-australian-barley-industry

[06] [GAGAL] Petani Eropa: Dampak Perubahan Iklim terhadap Produksi Jelai

Petani jelai di Eropa, terutama Jerman, menghadapi tantangan besar akibat perubahan iklim. Pada 2018-2019, sebagian besar Eropa mengalami kekeringan masif yang mengancam 60% produksi jelai global.

Insight Pembelajaran:

  • Insight untuk Pemula: Perubahan iklim adalah risiko real yang harus diantisipasi dalam perencanaan bisnis pertanian modern.
  • Insight untuk Pengembangan: Investasi dalam teknologi adaptasi iklim dan diversifikasi strategi produksi sangat krusial untuk keberlanjutan usaha.

Tanggal & Link: 2018-2019, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC8303565/

[07] [SUKSES] Petani Tasmania: Rekor Produksi Jelai Spring-Sown 11.42 Ton/Hektare

Program penelitian hyper-yielding crops (HYC) yang didanai GRDC dimulai tahun 2020 dengan target mencari potensi maksimal produksi jelai di Australia. Tim Field Applied Research (FAR) memimpin program lintas 5 negara bagian.

Insight Pembelajaran:

  • Insight untuk Pemula: Riset dan pengembangan yang sistematis dapat menghasilkan terobosan signifikan dalam produktivitas.
  • Insight untuk Pengembangan: Kolaborasi antar institusi riset dan industri dapat mempercepat inovasi dan adopsi teknologi.

Tanggal & Link: Juli 2023, https://groundcover.grdc.com.au/crops/cereals/new-benchmark-for-spring-sown-barley

[08] [SUKSES] Petani Australia: Adaptasi Pasar Pasca Tarif China Menjadi Peluang Diversifikasi

Petani jelai Australia menghadapi krisis besar ketika China menerapkan tarif 80.5% pada November 2018 yang efektif menutup pasar senilai 65% dari total ekspor Australia. Pasar China senilai miliaran dolar hilang dalam semalam.

Insight Pembelajaran:

  • Insight untuk Pemula: Diversifikasi pasar adalah strategi penting untuk mengurangi risiko ketergantungan pada satu pembeli besar.
  • Insight untuk Pengembangan: Krisis dapat menjadi katalis untuk transformasi bisnis yang lebih kuat dan berkelanjutan.

Tanggal & Link: Juli 2022, https://www.world-grain.com/articles/17213-australia-barley-growers-finding-new-markets

[09] [GAGAL] Petani Indonesia: Sistemik Kegagalan Pembangunan Pertanian Nasional

Indonesia sebagai negara agraris dengan 40% populasi bekerja di sektor pertanian menghadapi paradoks: produksi tinggi namun impor pangan terus meningkat. Program swasembada pangan berulang kali gagal meskipun anggaran fantastis Rp 954 triliun dalam 10 tahun.

Insight Pembelajaran:

  • Insight untuk Pemula: Pendekatan holistik dari produksi hingga pemasaran lebih penting daripada fokus tunggal pada peningkatan produksi.
  • Insight untuk Pengembangan: Kebijakan yang tidak didukung data dan penelitian ilmiah cenderung menghasilkan kegagalan sistemik.

Tanggal & Link: 9 Agustus 2024, https://www.kompas.id/baca/opini/2024/08/08/kegagalan-pembangunan-pertanian

[10] [SUKSES] Asian Agri: Model Kemitraan Berkelanjutan dengan 30.000 Petani

Asian Agri memulai kemitraan dengan petani melalui Program Perusahaan Inti Rakyat (PIR-Trans) tahun 1987 di Riau dan Jambi. Mengembangkan model bisnis yang mengintegrasikan perkebunan perusahaan dengan petani plasma.

Insight Pembelajaran:

  • Insight untuk Pemula: Kemitraan yang saling menguntungkan dengan petani dapat menciptakan model bisnis yang berkelanjutan dan profitable.
  • Insight untuk Pengembangan: Investasi dalam pemberdayaan petani mitra adalah investasi jangka panjang yang menguntungkan semua pihak.

Tanggal & Link: 14 Desember 2021, https://wartaekonomi.co.id/read380415/sejahterakan-petani-asian-agri-publikasikan-studi-kasus-tentang-komitmen-dan-investasi

[11] [SUKSES] Petani Milenial Asep (Cibeunying): Transformasi Pertanian Tradisional ke Modern

Asep, seorang petani milenial di Desa Cibeunying, Kecamatan Majenang, Kabupaten Cilacap, memulai dengan latar belakang keluarga petani. Melihat peluang memodernisasi pertanian yang masih tradisional di desanya.

Insight Pembelajaran:

  • Insight untuk Pemula: Teknologi dan media sosial dapat menjadi game changer dalam bisnis pertanian modern.
  • Insight untuk Pengembangan: Membangun komunitas dan network yang kuat dapat mempercepat adopsi inovasi dan pertumbuhan bisnis.

Tanggal & Link: 2024, https://cibeunying.desa.id/desa-cibeunying-berkarakter-kisah-inspiratif-petani-milenial-yang-sukses/

[12] [GAGAL] Petani Indonesia: Krisis Regenerasi dan Penuaan Sektor Pertanian

Indonesia menghadapi krisis regenerasi petani dengan 61% petani berusia di atas 45 tahun. Generasi muda enggan terjun ke sektor pertanian karena stigma negatif, pendapatan rendah, dan ketidakpastian hasil.

Insight Pembelajaran:

  • Insight untuk Pemula: Mengubah persepsi dan citra profesi petani menjadi modern dan menguntungkan adalah kunci menarik generasi muda.
  • Insight untuk Pengembangan: Perlu ekosistem yang mendukung mulai dari akses modal, teknologi, hingga jaminan pasar yang adil.

Tanggal & Link: 2023, https://www.hondapowerproducts.co.id/id/berita-informasi/artikel/masalah-pertanian-di-indonesia-dan-solusinya

[13] [SUKSES] Solusi Bangun Indonesia & Pemkab Cilacap: Inovasi Padi Biosalin untuk Lahan Marginal

PT Solusi Bangun Indonesia (anak usaha SIG) berkolaborasi dengan Pemkab Cilacap mengembangkan padi varietas biosalin 2 untuk mengatasi masalah intrusi air laut di lahan pesisir seluas 2.569 hektare di 12 kecamatan.

Insight Pembelajaran:

  • Insight untuk Pemula: Kolaborasi lintas sektor dapat menghasilkan solusi inovatif untuk masalah pertanian spesifik.
  • Insight untuk Pengembangan: Riset dan pengembangan varietas yang sesuai kondisi lokal adalah kunci sukses adaptasi pertanian.

Tanggal & Link: 21 April 2025, https://www.sig.id/en/sukses-uji-coba-padi-biosalin-sig-dan-pemkab-cilacap-dorong-pertanian-berkelanjutan-untuk-ketahanan-pangan

[14] [GAGAL] Startup Pertanian Indonesia: Tingkat Kegagalan 90% dalam Program Nasional

Indonesia memiliki 1.300 startup yang mengikuti program Gerakan Nasional 1000 Startup, termasuk berbagai startup di bidang pertanian dan agritech. Program diluncurkan dengan harapan besar untuk mentransformasi sektor pertanian melalui teknologi.

Insight Pembelajaran:

  • Insight untuk Pemula: Memahami mendalam tentang industri target adalah prasyarat sebelum mengembangkan solusi teknologi.
  • Insight untuk Pengembangan: Model bisnis yang sustainable dan product-market fit lebih penting daripada teknologi canggih.

Tanggal & Link: 21 September 2022, https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2022/09/21/mengapa-banyak-bisnis-startup-gagal-ini-penyebabnya

[15] [SUKSES] Kakani Sivannarayana (India): Transformasi dari Petani Konvensional ke Natural Farming

Kakani Sivannarayana awalnya hanya menanam pisang dengan mengandalkan pupuk kimia dan pestisida yang mahal. Melihat penurunan kualitas tanah dan produktivitas lahan, ia mencari alternatif yang lebih berkelanjutan.

Insight Pembelajaran:

  • Insight untuk Pemula: Pertanian berkelanjutan dapat lebih profitable dan ramah lingkungan dibanding pertanian konvensional.
  • Insight untuk Pengembangan: Menjadi pioneer dalam adopsi teknologi baru dapat membuka peluang menjadi thought leader dan trainer.

Tanggal & Link: 2024, https://www.fao.org/farmer-field-schools/ffs-overview/success-stories/en/

Mind Map Bisnis Budidaya Jelai (Barley)

Mind Map Bisnis Budidaya Jelai (Barley)
Bisnis Budidaya Jelai (Barley)

Sekilas Teknis Budidaya Jelai (Barley)

BAB I: PENDAHULUAN DAN KARAKTERISTIK TANAMAN

1.1 Pengenalan Jelai (Hordeum vulgare)

Jelai atau barley (Hordeum vulgare L.) adalah tanaman serealia anggota famili Poaceae yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan di Indonesia. Tanaman ini merupakan komoditas sereal terbesar keempat di dunia setelah gandum, jagung, dan padi. Di Indonesia, jelai dikenal juga dengan nama beras jali atau beras Thailand.

1.2 Struktur dan Komposisi Tanaman

Struktur biji jelai terdiri dari:

  • 10% sekam (husk) dan perikarp
  • 14% aleuron dan lapisan pigmen
  • 73% endosperm bertepung
  • 3% embrio

Jelai kaya akan pati dan gula, mengandung protein yang cukup, dan sangat rendah lemak. Tanaman ini memiliki nilai gizi tinggi dengan kandungan serat pangan, protein, vitamin B kompleks, magnesium, fosfor, selenium, dan berbagai mineral penting lainnya.

1.3 Potensi Adaptasi di Indonesia

Meski jelai merupakan tanaman daerah beriklim sedang, beberapa varietas telah menunjukkan adaptabilitas yang baik di dataran tinggi Indonesia. Penelitian menunjukkan bahwa jelai dapat tumbuh pada ketinggian 600-1.000 meter di atas permukaan laut dengan manajemen yang tepat.

BAB II: SYARAT TUMBUH DAN PEMILIHAN LOKASI

2.1 Iklim dan Cuaca

Suhu Optimal:

  • Suhu pertumbuhan ideal: 15-25°C
  • Suhu optimal saat pembungaan: 20-22°C
  • Toleran terhadap suhu rendah namun sensitif terhadap panas berlebihan
  • Diferensiasi suhu siang-malam diperlukan untuk pembungaan optimal

curah hujan:

  • Kebutuhan air: 330-392 mm selama siklus pertumbuhan
  • curah hujan optimal: 600-800 mm/tahun
  • Distribusi curah hujan harus merata, terutama pada fase vegetatif
  • Musim kering diperlukan saat panen untuk kualitas biji optimal

Kelembaban dan Angin:

  • Kelembaban relatif optimal: 70-80%
  • Sirkulasi udara yang baik untuk mencegah penyakit jamur
  • Angin sedang membantu penyerbukan

2.2 Persyaratan Tanah

Jenis Tanah:

  • Tanah lempung berpasir hingga lempung berliat
  • Struktur tanah gembur dan remah
  • Drainase yang baik, tidak toleran genangan air
  • Kedalaman solum minimum 50 cm

Sifat Kimia Tanah:

  • pH tanah optimal: 6,0-7,5 (sedikit asam hingga netral)
  • Salinitas: toleran hingga 8-10 dS/m (lebih toleran dari gandum)
  • Kandungan bahan organik minimum 2%
  • C/N rasio tanah: 10-12

Kesuburan Tanah:

  • N tersedia: 40-60 ppm
  • P₂O₅ tersedia: 20-30 ppm
  • K₂O tersedia: 150-200 ppm
  • Kandungan Ca dan Mg yang cukup

2.3 Ketinggian Tempat dan Topografi

Ketinggian Optimal:

  • Dataran tinggi: 800-1.500 m dpl (optimal)
  • Dataran sedang: 400-800 m dpl (dengan manajemen khusus)
  • Dataran rendah: <400 m dpl (varietas khusus dan teknologi intensif)

Topografi:

  • Lahan datar hingga bergelombang ringan (kemiringan <8%)
  • Tersedia akses air irigasi
  • Tidak rawan banjir atau genangan

BAB III: PEMILIHAN VARIETAS DAN PENYIAPAN BENIH

3.1 Jenis Varietas yang Cocok untuk Indonesia

Varietas Spring Type (Musim Semi):

  • Lebih adaptif untuk iklim tropis Indonesia
  • Tidak memerlukan vernalisasi (perlakuan dingin)
  • Umur panen relatif lebih cepat (90-120 hari)

Kriteria Varietas Pilihan:

  • Toleran suhu tinggi (heat tolerance)
  • Tahan terhadap penyakit utama daerah tropis
  • Responsif terhadap pupuk
  • Hasil tinggi (4-6 ton/ha)
  • Kualitas malting yang baik (jika untuk industri bir)

3.2 Persyaratan Benih Berkualitas

Kriteria Benih Unggul:

  • Daya kecambah minimum 85%
  • Kemurnian varietas >98%
  • Kadar air benih 12-14%
  • Bebas dari hama, penyakit, dan gulma
  • Ukuran seragam dan bernas
  • Berat 1000 biji sesuai deskripsi varietas

Sumber Benih:

  • Benih bersertifikat dari Balitbangtan
  • Penangkar benih resmi
  • Impor benih dengan izin resmi untuk penelitian

3.3 Perlakuan Benih

Seleksi Benih:

  1. Perendaman dalam air bersih selama 2-4 jam
  2. Benih yang mengapung dibuang
  3. Benih yang tenggelam ditiriskan dan dijemur hingga kadar air 12-14%

Perlakuan Fungisida:

  • Perlakuan benih dengan fungisida sistemik
  • Dosis: 2-3 g fungisida per kg benih
  • Bahan aktif yang direkomendasikan: thiram, carboxin

Uji Daya Kecambah:

  • Ambil sampel 100 biji secara acak
  • Kecambahkan pada media pasir steril
  • Hitung persentase kecambah setelah 7 hari
  • Standar minimum: 85% daya kecambah

BAB IV: PENGOLAHAN LAHAN DAN PERSIAPAN TANAM

4.1 Pembersihan dan Persiapan Lahan

Tahap Pembersihan:

  1. Bersihkan lahan dari sisa tanaman sebelumnya
  2. Buang gulma dan sampah organik
  3. Ratakan permukaan lahan
  4. Perbaiki sistem drainase yang rusak

Pengolahan Tanah Primer:

  • Bajak dengan kedalaman 25-30 cm
  • Biarkan tanah terbuka selama 2-3 minggu untuk aerasi
  • Lakukan pembajakan kedua jika diperlukan
  • Hancurkan bongkahan tanah dengan garu

4.2 Pembuatan Bedengan dan Drainase

Sistem Bedengan:

  • Lebar bedengan: 150-200 cm
  • Tinggi bedengan: 20-25 cm
  • Panjang bedengan: disesuaikan dengan kontur lahan
  • Arah bedengan: Utara-Selatan untuk paparan sinar matahari optimal

Sistem Drainase:

  • Saluran drainase antar bedengan: lebar 50 cm, dalam 25-30 cm
  • Saluran pembuangan utama: lebar 100 cm, dalam 50 cm
  • Jarak antar saluran drainase: 2-3 meter
  • Kemiringan saluran: 1-2% untuk aliran air yang lancar

4.3 Aplikasi Pupuk Dasar dan Ameliorant

Pupuk Organik:

  • Kompos matang: 10-15 ton/ha
  • Pupuk kandang: 15-20 ton/ha (fermentasi minimal 3 bulan)
  • Aplikasi 2-3 minggu sebelum tanam

Pembenah Tanah:

  • Kapur pertanian: 500-1000 kg/ha (jika pH <6,0)
  • Dolomit: 300-500 kg/ha (untuk menyediakan Ca dan Mg)
  • Gypsum: 200-300 kg/ha (untuk tanah sodium tinggi)

Pupuk Dasar Anorganik:

  • Urea: 50 kg/ha (1/3 dari total kebutuhan)
  • SP-36: 150-200 kg/ha
  • KCl: 75-100 kg/ha
  • Aplikasi bersamaan dengan pengolahan tanah akhir

BAB V: TEKNIK PENANAMAN

5.1 Waktu Tanam Optimal

Musim Tanam di Indonesia:

  • Musim Tanam I: Akhir musim hujan (Maret-April)
  • Musim Tanam II: Awal musim kemarau (Juni-Juli) dengan irigasi
  • Hindari penanaman pada puncak musim hujan (Desember-Februari)
  • Sesuaikan dengan pola curah hujan lokal

Persiapan Sebelum Tanam:

  • Pastikan kadar air tanah 70-80% kapasitas lapang
  • Lakukan penyiraman jika tanah terlalu kering
  • Siapkan sistem irigasi tetes atau sprinkler

5.2 Sistem dan Jarak Tanam

Sistem Penanaman:

  • Sistem tugal atau sistem larikan
  • Sistem larikan lebih efisien untuk lahan luas
  • Kedalaman tanam: 2-3 cm

Jarak Tanam:

  • Jarak antar baris: 20-25 cm
  • Jarak dalam baris: 5-8 cm
  • Populasi tanaman: 350-400 tanaman/m²
  • Kebutuhan benih: 120-150 kg/ha

Cara Penanaman:

  1. Buat larikan sedalam 2-3 cm dengan tugal atau bajak kecil
  2. Taburkan benih secara merata dalam larikan
  3. Tutup dengan tanah tipis setebal 1-2 cm
  4. Padatkan ringan dengan punggung cangkul
  5. Siram secukupnya jika diperlukan

5.3 Irigasi Awal

Penyiraman Pasca Tanam:

  • Siram ringan segera setelah tanam
  • Jaga kelembaban tanah hingga perkecambahan sempurna
  • Hindari genangan air yang dapat menyebabkan benih busuk
  • Gunakan sprinkler dengan tekanan rendah

BAB VI: PEMELIHARAAN TANAMAN

6.1 Pengairan dan Manajemen Air

Fase Pertumbuhan dan Kebutuhan Air:

Fase Perkecambahan (0-10 HST):

  • Jaga kelembaban tanah konstan
  • Siram 2-3 kali per hari dengan volume sedikit
  • Hindari genangan yang menyebabkan damping off

Fase Vegetatif (10-60 HST):

  • Interval penyiraman: 3-4 hari sekali
  • Volume air: 300-400 liter/1000 m²
  • Frekuensi dikurangi menjelang fase generatif

Fase Pembungaan dan Pengisian Biji (60-90 HST):

  • Periode kritis kebutuhan air
  • Jaga kelembaban tanah 70-80% kapasitas lapang
  • Hindari stress air yang dapat mengurangi hasil

Fase Pemasakan (90-120 HST):

  • Kurangi frekuensi penyiraman
  • Hentikan irigasi 1-2 minggu sebelum panen
  • Pastikan tanah tidak terlalu kering saat panen

6.2 Pemupukan Susulan

Jadwal Pemupukan:

Pemupukan I (20-25 HST):

  • Urea: 75 kg/ha
  • Aplikasi saat tanaman tinggi 15-20 cm
  • Aplikasi dengan cara tugal di samping barisan tanaman

Pemupukan II (45-50 HST):

  • Urea: 75 kg/ha
  • KCl: 50 kg/ha (jika diperlukan)
  • Aplikasi saat fase anakan maksimal

Pemupukan III (70-75 HST):

  • Urea: 50 kg/ha (opsional)
  • Hanya jika tanaman menunjukkan gejala defisiensi nitrogen
  • Aplikasi saat awal pembungaan

Pupuk Mikro:

  • Aplikasi pupuk daun dengan interval 2 minggu
  • Komposisi: B, Zn, Mn, Fe
  • Konsentrasi: 0,2-0,5%
  • Aplikasi pada pagi atau sore hari

6.3 Penyiangan dan Pengendalian Gulma

Pengendalian Gulma Mekanis:

  • Penyiangan I: 15-20 HST
  • Penyiangan II: 35-40 HST
  • Penyiangan III: 55-60 HST (jika diperlukan)
  • Gunakan cangkul kecil atau kored
  • Lakukan pembumbunan ringan saat penyiangan

Pengendalian Gulma Kimiawi:

  • Herbisida pra-tumbuh: pendimethalin 1,5-2 l/ha
  • Aplikasi 1-2 hari setelah tanam
  • Herbisida purna-tumbuh: 2,4-D 1-1,5 l/ha (untuk gulma berdaun lebar)
  • Aplikasi saat tanaman tinggi 15-25 cm

Mulsa Organik:

  • Aplikasi jerami atau sekam padi setelah tanaman tinggi 20 cm
  • Ketebalan mulsa: 5-8 cm
  • Manfaat: menekan gulma, menjaga kelembaban, menambah bahan organik

6.4 Pembumbunan dan Pemeliharaan Fisik

Pembumbunan:

  • Dilakukan bersamaan dengan penyiangan kedua
  • Tujuan: memperkuat perakaran dan mencegah rebah
  • Tinggi bumbunan: 5-8 cm dari permukaan tanah

Pemasangan Penyangga:

  • Pasang ajir bambu untuk varietas tinggi (>80 cm)
  • Ikat tanaman dengan tali rafia secara longgar
  • Lakukan saat tanaman mulai mengeluarkan malai

BAB VII: PENGENDALIAN HAMA PENYAKIT TERPADU (PHT)

7.1 Hama Utama dan Pengendaliannya

Kutu Daun (Aphids):

  • Gejala: daun menggulung, pertumbuhan terhambat, madu embun
  • Pengendalian biologis: lepas predator Coccinella sp.
  • Pengendalian kimiawi: imidacloprid 0,2-0,3 ml/l
  • Aplikasi pada pagi atau sore hari

Ulat Grayak (Spodoptera sp.):

  • Gejala: daun berlubang, malai terpotong
  • Pengendalian mekanis: tangkap dan musnahkan
  • Pengendalian biologis: Bacillus thuringiensis 2-3 g/l
  • Pengendalian kimiawi: chlorpyrifos 2 ml/l

Penggerek Batang:

  • Gejala: batang berlubang, tanaman layu
  • Pengendalian: perbanyak parasitoid Trichogramma sp.
  • Sanitasi: buang batang terserang
  • Insektisida sistemik: carbofuran 1-1,5 kg/ha

Wereng dan Walang Sangit:

  • Gejala: daun menguning, malai hampa
  • Monitoring dengan perangkap kuning
  • Insektisida: deltamethrin 0,5 ml/l
  • Aplikasi saat populasi mencapai ambang ekonomi

7.2 Penyakit Utama dan Pengendaliannya

Bercak Daun Helminthosporium:

  • Gejala: bercak coklat memanjang pada daun
  • Pengendalian: fungisida mankozeb 2 g/l
  • Interval aplikasi: 7-10 hari
  • Rotasi dengan fungisida berbahan aktif berbeda

Karat Daun (Puccinia hordei):

  • Gejala: pustula coklat kemerahan pada daun
  • Pengendalian: propiconazole 1 ml/l
  • Aplikasi preventif saat kelembaban tinggi
  • Perbaiki sirkulasi udara dalam pertanaman

Busuk Pelepah (Rhizoctonia solani):

  • Gejala: pelepah daun membusuk, tanaman rebah
  • Pengendalian: validamycin 2 ml/l
  • Perbaiki drainase lahan
  • Hindari genangan air

Fusarium Head Blight:

  • Gejala: malai menghitam dan busuk
  • Pengendalian: tebuconazole 1 ml/l
  • Aplikasi saat awal pembungaan
  • Sanitasi: buang malai terserang

7.3 Pengendalian Terpadu

Komponen PHT:

  1. Varietas tahan/toleran
  2. Sanitasi lahan dan peralatan
  3. Rotasi tanaman dengan non-serealia
  4. Penggunaan agen hayati
  5. Aplikasi pestisida selektif
  6. Monitoring rutin populasi hama

Ambang Ekonomi:

  • Kutu daun: 5-10 ekor/10 tanaman
  • Ulat grayak: 2-3 ekor/10 tanaman
  • Intensitas penyakit: >10% tanaman terserang

BAB VIII: PANEN DAN PASCA PANEN

8.1 Penentuan Waktu Panen

Ciri-ciri Tanaman Siap Panen:

  • Umur tanaman: 90-120 HST (tergantung varietas)
  • Daun mulai menguning dan mengering
  • Malai berwarna kuning kecoklatan
  • Biji keras dan sulit dipecah dengan kuku
  • Kadar air biji: 18-22%

Waktu Panen Optimal:

  • Pagi hari (jam 6:00-9:00) saat embun mulai hilang
  • Hindari panen saat hujan atau kabut tebal
  • Cuaca cerah minimal 2-3 hari sebelum panen

8.2 Cara Panen

Panen Manual:

  • Gunakan sabit atau arit yang tajam
  • Potong batang 10-15 cm dari permukaan tanah
  • Kumpulkan dalam ikatan kecil (diameter 15-20 cm)
  • Segera angkut ke tempat penjemuran

Panen Mekanis:

  • Combine harvester untuk lahan luas (>5 ha)
  • Sesuaikan setelan mesin dengan kondisi tanaman
  • Kecepatan operasi: 3-5 km/jam
  • Lakukan kalibrasi untuk meminimalkan kehilangan hasil

8.3 Penanganan Pasca Panen

Pengeringan:

  • Jemur segera setelah panen di lantai jemur bersih
  • Ketebalan hamparan: 3-5 cm
  • Aduk setiap 2-3 jam untuk pengeringan merata
  • Target kadar air: 12-14% untuk penyimpanan

Perontokan:

  • Manual: pukul dengan kayu atau flail
  • Mekanis: power thresher kapasitas 500-1000 kg/jam
  • Pisahkan biji dari kotoran dengan ayakan

Pembersihan dan Sortasi:

  • Gunakan seed cleaner atau ayakan berlapis
  • Pisahkan biji utuh, biji pecah, dan kotoran
  • Sortasi berdasarkan ukuran dan warna
  • Standar mutu: biji utuh >90%, kotoran <3%

8.4 Penyimpanan

Persiapan Tempat Penyimpanan:

  • Gudang bersih, kering, dan berventilasi baik
  • Lantai kedap air dan mudah dibersihkan
  • Perlindungan dari tikus dan serangga gudang

Wadah Penyimpanan:

  • Karung goni/plastik untuk penyimpanan sementara
  • Silo untuk penyimpanan jangka panjang
  • Kapasitas maksimal 50 kg per karung

Monitoring Penyimpanan:

  • Cek kadar air setiap bulan (maksimal 14%)
  • Monitor suhu gudang (maksimal 30°C)
  • Aplikasi fumigan jika ada serangan hama gudang
  • Rotasi stok dengan sistem FIFO (First In First Out)

8.5 Standar Mutu dan Grading

Kelas Super:

  • Kadar air: maksimal 14%
  • Biji utuh: minimal 95%
  • Kotoran: maksimal 2%
  • Biji rusak: maksimal 3%

Kelas I:

  • Kadar air: maksimal 14%
  • Biji utuh: minimal 90%
  • Kotoran: maksimal 3%
  • Biji rusak: maksimal 5%

Kelas II:

  • Kadar air: maksimal 15%
  • Biji utuh: minimal 85%
  • Kotoran: maksimal 5%
  • Biji rusak: maksimal 8%
Facebook Twitter/X WhatsApp Telegram LinkedIn