Daftar Isi
Rangkuman Berita
[01] [SUKSES] Maria Loreta: Transformasi Lahan Gersang Menjadi Ladang Sorgum Produktif
Maria mengeluarkan uang Rp 100.000 hasil jual kopra untuk membeli 10 kg bibit sorgum pertama. Bersama suami, ia berkeliling ke berbagai daerah di NTT menyebarkan benih sorgum, dimulai dari Lembor bagian Barat Flores, Nagekeo, Ende, Maumere, Flores Timur, Lembata, hingga Sabu. Ia mendirikan Yayasan Cinta Alam Pertanian Kadiare sebagai wadah pemberdayaan petani.
Insight Pembelajaran
Insight untuk Pemula: Bisnis pertanian memerlukan kesabaran dan modal yang tidak besar – Maria memulai dengan Rp 100.000 dan berkembang menjadi gerakan masif. Insight untuk Pengembangan: Membangun jaringan dan komunitas petani adalah kunci keberlanjutan – 34 kelompok tani menjadi agen perubahan yang mandiri tanpa perlu diperintah lagi.
Tanggal & Link: Berbagai publikasi 2016-2023
Sumber: https://mongabay.co.id/2016/07/02/sukses-kembangkan-sorgum-di-ntt-maria-jatuh-cinta-pada-rasa-pertama/
[02] [SUKSES] Panen Raya Sorgum NTT: 260 Ton dari Lahan Tandus
Penanaman sorgum dilakukan di lahan kering seluas 85 hektare total – 65 hektare di Flores Timur dan 20 hektare di Lembata. Di Dusun Likotuden Desa Kawalelo saja, 30 hektare digarap oleh 62 kepala keluarga. Program ini mendapat dukungan penuh dari Yayasan KEHATI sebagai bagian program kedaulatan pangan berbasis pangan lokal.
Insight Pembelajaran
Insight untuk Pemula: Produktivitas 3+ ton per hektare menunjukkan potensi ekonomi yang menjanjikan untuk lahan yang sebelumnya tidak produktif. Insight untuk Pengembangan: Kerjasama dengan lembaga pendukung seperti yayasan dapat mempercepat scaling up program pertanian berkelanjutan.
Tanggal & Link: 9 Mei 2016
Sumber: https://ekonomi.bisnis.com/read/20160509/99/545555/penanaman-sorgum-di-ntt-dinilai-berhasil
[03] [GAGAL] Petani Sorgum Lamongan: Tiga Musim Gagal Panen Karena Hama Tikus
Sujono menerapkan budidaya sorgum konvensional tanpa penanganan khusus hama tikus. Pemerintah daerah sudah memberikan bantuan obat penanganan hama tikus dan menghimbau penggunaan Anggaran Dana Desa untuk mendirikan rumah burung hantu, namun implementasinya tidak optimal.
Insight Pembelajaran
Insight untuk Pemula: Pengendalian hama memerlukan pendekatan komunal dan terkoordinasi, bukan individual – tikus adalah masalah bersama. Insight untuk Pengembangan: Investasi dalam sistem peringatan dini dan pengendalian hama terintegrasi sangat kritikal untuk menjaga profitabilitas jangka panjang.
Tanggal & Link: 30 Oktober 2021
Sumber: https://www.mongabay.co.id/2021/10/31/kisah-petani-sorgum-tiga-musim-gagal-panen-karena-serangan-tikus/
[04] [SUKSES] PTPN XII: Kontrak Penjualan 1.060 Ton Sorgum dengan Harga Rp 2.200/kg
Penanaman sorgum diperluas ke berbagai kebun dengan total areal 2.200 hektare. Strategi pemasaran dilakukan melalui kontrak penjualan langsung dengan PT Fortuna Sumber Agrindo. PTPN XII juga menjalin kemitraan dengan berbagai perusahaan besar seperti Indofood, Cargill, Surya Agro Pratama, dan Tiga Pilar.
Insight Pembelajaran
Insight untuk Pemula: Kontrak penjualan sebelum panen memberikan kepastian pendapatan dan mengurangi risiko fluktuasi harga pasar. Insight untuk Pengembangan: Diversifikasi tanaman di lahan yang sudah ada dapat meningkatkan efisiensi penggunaan lahan tanpa investasi besar.
Tanggal & Link: 15 Juli 2013
Sumber: https://ekonomi.bisnis.com/read/20130715/99/150861/ptpn-xii-panen-sorgum-fortuna-agrindo-serap-1060-ton
[05] [GAGAL] Indofood-PTPN: Kegagalan Kerjasama Sorgum Karena Masalah Harga
Indofood berencana menggunakan sorgum untuk mensubstitusi sebagian gandum dalam produksi mi instan. PTPN XII disiapkan sebagai pemasok dengan target harga yang kompetitif. Strategi ini merupakan respons terhadap kenaikan harga gandum akibat perang Rusia-Ukraina.
Insight Pembelajaran
Insight untuk Pemula: Kalkulasi harga dan studi kelayakan harus matang sebelum menandatangani kesepakatan bisnis – kesalahan perhitungan bisa menggagalkan kontrak besar. Insight untuk Pengembangan: Dalam bisnis substitusi, harga produk pengganti harus kompetitif dengan produk yang digantikan agar adopsi berhasil.
Tanggal & Link: Agustus 2022
Sumber: https://indonesiabusinesspost.com/116/Politics/sorghum-as-a-sustainable-food-source-in-indonesia
[06] [SUKSES] Jawa Tengah: Target Panen 1.000 Ton Sorgum dari 120 Hektare
Penanaman dilakukan secara bertahap – Wonogiri 50 ha di Juli dan 10 ha di Agustus, Sukoharjo 20 ha di Agustus, Cilacap 40 ha di Oktober. Pemprov Jateng fokus membantu petani dalam penanganan pascapanen dengan rencana pemberian bantuan alat pengolahan dan pendampingan teknis.
Insight Pembelajaran
Insight untuk Pemula: Dukungan pemerintah melalui APBN dapat menjadi katalis penting untuk pengembangan komoditas baru dengan skala yang signifikan. Insight untuk Pengembangan: fokus pada pascapanen dan pengolahan sama pentingnya dengan budidaya untuk memastikan nilai tambah dan keberlanjutan usaha.
Tanggal & Link: 26 Agustus 2022
Sumber: https://regional.espos.id/jateng-siap-panen-1-000-ton-sorgum-1404876
[07] [GAGAL] Petani Sorgum Kepri: Kewalahan Serangan Burung Menjelang Panen
Petani menerapkan berbagai cara pengendalian burung: membungkus tanaman dengan plastik, memasang pita dan kaleng yang diikat tali, berkeliling kebun dengan botol berisi batu untuk mengeluarkan suara. Namun semua dilakukan secara manual dan individual.
Insight Pembelajaran
Insight untuk Pemula: Pengendalian hama burung memerlukan perencanaan dan investasi teknologi yang tepat sejak awal, bukan solusi darurat saat menjelang panen. Insight untuk Pengembangan: Teknologi pengendalian hama modern seperti jaring atau sistem otomatis lebih efisien dibanding cara manual yang intensif tenaga kerja.
Tanggal & Link: 24 September 2022
Sumber: https://kepri.batampos.co.id/jelang-panen-sorgum-petani-dibuat-kewalahan-serangan-burung/
[08] [GAGAL] Produksi Sorgum Lamongan Turun 50% Karena Hama Tikus dan Burung
Petani menanam varietas KD4 dan Bioguma di lahan yang tersebar. Dinas Pertanian membina UMKM pengolahan sorgum menjadi makanan siap konsumsi. Target peningkatan luas tanam dari 211 ha tahun sebelumnya, namun baru 14 hektare yang berhasil ditanam di Kecamatan Babat.
Insight Pembelajaran
Insight untuk Pemula: Potensi lahan besar tidak menjamin keberhasilan jika sistem pengendalian hama tidak diantisipasi dengan baik sejak perencanaan. Insight untuk Pengembangan: Program pemerintah perlu dilengkapi dengan sistem monitoring dan pengendalian risiko yang komprehensif untuk menjaga konsistensi produksi.
Tanggal & Link: 16 Juni 2022
Sumber: https://mediaindonesia.com/nusantara/499826/hama-tikus-dan-burung-picu-produksi-sorgum-turun-50
[09] [SUKSES] Balitsereal: Pengembangan Varietas Unggul di Sumatera Utara
Balitsereal mengembangkan berbagai varietas unggul seperti Numbu, Kawali, Suri, Sangkur, Mandau, dan Super. Uji adaptasi dilakukan di Desa Lau Baleng, Kabupaten Karo dengan penanaman 9 varietas: Numbu, Super 1, Super 2, Super 6, Suri 3, Suri 4, Kawali, Super 7, dan Super 9.
Insight Pembelajaran
Insight untuk Pemula: Investasi dalam riset dan pengembangan varietas unggul adalah fondasi penting untuk keberhasilan budidaya komoditas baru. Insight untuk Pengembangan: Kerjasama antara lembaga penelitian dan pemerintah daerah dapat mempercepat adopsi teknologi di tingkat lapangan.
Tanggal & Link: 20 Desember 2021
Sumber: http://technology-indonesia.com/pertanian-dan-pangan/inovasi-pertanian/balitsereal-kembangkan-sorgum-di-kabupaten-karo/
[10] [SUKSES] Banyumas: Implementasi Varietas Kawali dengan Potensi 4-5 Ton/Ha
Sorgum Varietas Kawali menunjukkan karakteristik unggul: umur tanaman 100-110 HST, tinggi tanaman 135 cm, bentuk biji bulat lonjong berwarna krem, bobot 1000 biji 30 gram, rata-rata hasil 2,96 ton/ha dengan potensi hasil 4-5 ton/ha. Program berhasil sebagai model untuk pengembangan lebih luas.
Insight Pembelajaran
Insight untuk Pemula: Demplot atau uji coba skala kecil adalah cara efektif untuk membuktikan kelayakan sebelum investasi besar. Insight untuk Pengembangan: Integrasi dengan program pemerintah yang lebih besar dapat memberikan dukungan berkelanjutan untuk scaling up.
Tanggal & Link: 2023
Sumber: https://dinpertankp.banyumaskab.go.id/read/44785/sorgum-sebagai-bahan-pangan-alternatif
[11] [GAGAL] Tantangan Pengembangan Sorgum Menurut Ekonom
Pemerintah mengalokasikan anggaran untuk pengembangan food estate sorgum dan mendorong penanaman massal di berbagai daerah, terutama di Indonesia bagian timur. Strategi ini diharapkan bisa mengurangi ketergantungan impor gandum yang mencapai 11,69 juta ton pada 2021.
Insight Pembelajaran
Insight untuk Pemula: Program besar pemerintah tidak selalu berhasil – perlu evaluasi mendalam terhadap kesiapan infrastruktur dan manajemen sebelum scaling up. Insight untuk Pengembangan: Fokus dan konsistensi tujuan sangat penting – kebingungan antara orientasi pangan dan energi bisa menghambat efektivitas program.
Tanggal & Link: 2022
Sumber: https://www.tempo.co/ekonomi/ekonom-sebut-3-tantangan-pengembangan-sorgum-sebagai-subtitusi-gandum-311753
[12] [SUKSES] Flores: Sorgum Organik Tiga Kali Panen Tanpa Pupuk
Maria mengembangkan sistem budidaya sorgum organik tanpa pupuk dan pestisida kimia. Sorgum dipilih karena cocok untuk lahan panas dan kering Flores, memiliki kemampuan menyerap air embun malam hari, dan tahan terhadap hama rumput. Dia juga mengajak petani sekitar untuk ikut membudidayakan.
Insight Pembelajaran
Insight untuk Pemula: Budidaya organik dapat menghemat biaya input sekaligus menghasilkan produk premium yang bernilai tinggi. Insight untuk Pengembangan: Sistem ratun (3 kali panen) dapat meningkatkan efisiensi lahan dan mengurangi biaya tanam ulang secara signifikan.
Tanggal & Link: 17 Oktober 2018
Sumber: https://www.liputan6.com/lifestyle/read/3670081/kisah-perempuan-dayak-yang-tercebur-jadi-petani-sorgum-di-flores
[13] [SUKSES] Buleleng: Diversifikasi Pangan Gluten Free di Ketinggian 475 mdpl
Penanaman sorgum dilakukan pertama kali di Kecamatan Sukasada dengan ketinggian 475 mdpl untuk menguji adaptabilitas di dataran tinggi. Hasil panen akan disimpan oleh Perusda Provinsi Bali untuk keperluan bibit pengembangan selanjutnya. Program ini didukung penuh oleh Dinas Pertanian Buleleng.
Insight Pembelajaran
Insight untuk Pemula: Mengikuti tren kesehatan global seperti gluten free dapat membuka pasar premium yang menguntungkan. Insight untuk Pengembangan: Diversifikasi lokasi penanaman (dataran tinggi) dapat memperluas potensi pengembangan komoditas di berbagai agroklimat.
Tanggal & Link: 2020
Sumber: https://distan.bulelengkab.go.id/informasi/detail/berita/sorgum-24
Sekilas Panduan Pertanian Cantel
Bab I: Pengenalan Tanaman Cantel
Cantel atau sorgum (Sorghum bicolor var. saccharatum) merupakan tanaman serealia yang berasal dari Afrika dan telah lama dikenal di Indonesia dengan berbagai nama lokal. Di Jawa Barat disebut gandrung, di Jawa Tengah disebut cantel, dan bahkan konon cantel juga tertera dalam relief Borobudur yang menunjukkan tanaman ini dibudidayakan pada masa pembangunan candi pada abad ke-8.
Garai atau sorgum adalah tanaman serbaguna yang dapat digunakan sebagai sumber pangan, pakan ternak, dan bahan baku industri. Sebagai bahan pangan, garai berada pada urutan ke-5 setelah gandum, jagung, padi, dan jelai. Berdasarkan data Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) tahun 2016, sorgum menempati peringkat kelima sumber pangan dari biji-bijian terbanyak diproduksi secara global.
Tanaman ini memiliki beberapa keunggulan untuk dikembangkan di Indonesia, yaitu:
- Toleran terhadap kekeringan dan genangan
- Dapat tumbuh di berbagai jenis tanah, termasuk lahan marjinal
- Tahan terhadap hama dan penyakit
- Memiliki kandungan nutrisi tinggi
- Kandungan protein, serat, kalsium, fosfor, dan zat besi yang lebih tinggi daripada beras, serta kandungan lemak dan gula yang lebih rendah
Morfologi Tanaman
Akarnya berjenis serabut yang berfungsi untuk menyerap air, unsur hara, dan memperkokoh tegakan batangnya. Sistem perakaran tanaman tersebut juga dikenal toleran terhadap kekeringan maupun cuaca panas. Batangnya berbentuk silinder dengan ketinggian bervariasi tergantung varietas, tetapi umumnya dapat mencapai lebih dari 2,5 meter.
Daun sorgum berbentuk lurus memanjang. Biji sorgum berbentuk bulat dengan ujung mengerucut, berukuran diameter sekitar 2 mm. Satu pohon sorgum mempunyai satu tangkai buah yang memiliki beberapa cabang buah.
Varietas Unggul
Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) melalui Balitsereal Maros Sulawesi Selatan telah banyak menghasilkan varietas unggul baru sorgum diantaranya Numbu, Kawali, Suri, Sangkur, Mandau, dan Super.
Sorgum Varietas Kawali dilepas berdasarkan SK Menteri Pertanian 528/Kpts/TP.240/10/2001 tanggal 22 Oktober 2021, mempunyai karakteristik: Umur tanaman 100-110 hst, tinggi tanaman 135 cm, bentuk biji bulat lonjong, warna biji krem, bobot 1000 biji 30 gram, Rata-rata hasil 2,96 ton/ha dan potensi hasil 4-5 ton/ha.
Bab II: Syarat Tumbuh dan Pemilihan Lahan
Syarat Tumbuh
Tanaman sorgum dapat tumbuh di daerah yang tinggi maupun yang rendah. Tanah yang dibutuhkan dari tanah lempung, lempung berpasir, tanah branjangan tanah lebu dan tanah yang mengandung bahan organik. curah hujan sedang, suhu udara 22-32 derajat C, pH tanah 5,5-7. Dan tata air yang baik.
Daerah budidaya garai sangat luas, garai dapat hidup mulai dari dataran rendah hingga dataran tinggi dengan iklim tropis-kering sampai iklim basah. Sorgum bisa tumbuh di lahan tropis di Afrika sampai subtropis di Amerika. Dia juga bisa tumbuh di lahan marjinal dan tak butuh banyak pupuk dengan hama penyakit terbatas.
Pemilihan Lahan
Kriteria lahan yang cocok untuk budidaya cantel:
- pH tanah 5,5-7,0
- Drainase baik, tidak tergenang air
- Tersedia air irigasi atau curah hujan 400-600 mm per musim tanam
- Ketinggian 0-500 mdpl (optimal)
- Dapat dibudidayakan selain dataran rendah, karena Tegal Linggah yang mempunyai ketinggian 475 mdpl berhasil membudidayakan sorgum
Waktu Tanam
Jika ditanam pada musim kemarau, sorgum dapat ditanam setelah panen padi kedua atau setelah palawija di lahan sawah. Pertanaman musim kemarau umumnya memberi hasil lebih rendah dibandingkan dengan musim hujan.
Waktu terbaik untuk menanam sorgum yaitu di akhir musim hujan atau awal musim kemarau.
Bab III: Pengolahan Lahan dan Persiapan Tanam
Pengolahan Lahan
Sebelum menanam, sebaiknya lahan dibersihkan dari sisa-sisa tanaman sebelumnya ataupun gulma. Pengolahan tanah dimaksudkan untuk menggemburkan tanah, meningkatkan aerasi tanah dan mengendalikan gulma.
Untuk Lahan Beririgasi: Pada lahan yang tingkat ketersediaan airnya cukup atau beririgasi, pengolahan tanah dapat dilakukan secara optimum, yaitu dibajak dua kali dan digaru satu kali.
Untuk lahan irigasi, pengolahan lahan dilakukan dengan membajak sedalam 20-30 cm, kemudian digaru dan diratakan. Setelah tanah diratakan, dibuat bedengan dengan ukuran 1-1,5 m dan saluran drainase dengan kedalaman 30 cm di antara bedengan.
Untuk Lahan Kering: Untuk lahan yang mengandalkan residu air tanah, pengolahan hanya dilakukan secara sederhana dengan mencangkul permukaan tanah untuk mematikan gulma. Pengolahan tanah sederhana efektif menghambat penguapan air tanah.
Bisa dilakukan minimum tillage dengan mengolah tanah pada barisan tanam saja. Pengolahan tanah sebaiknya 1-2 minggu sebelum tanam.
Pemupukan Dasar
Pemupukan dasar yaitu dengan pupuk kandang 5 ton/Ha, ditambah 10 botol MOSA GOLD isi 500 gr untuk lahan seluas 1 hektar.
Pupuk kandang diaplikasikan sebagai pupuk dasar bersamaan dengan pengolahan lahan sebanyak 2 ton/hektar.
Rekomendasi pemupukan dasar:
- Pupuk kandang: 2-5 ton/ha
- Urea: 100-150 kg/ha
- SP-36: 75-100 kg/ha
- KCl: 50-75 kg/ha
Bab IV: Pembibitan dan Pembenihan
Pemilihan Benih
Kebutuhan benih sorgum untuk satu hektar lahan berkisar antara 10 sampai 15 kg, bergantung pada varietas yang akan ditanam, ukuran benih, jarak tanam, dan sistem tanam. Untuk mendapatkan pertumbuhan tanaman yang baik, vigor kecambah benih yang digunakan daya tumbuhnya 90 persen.
Kebutuhan benih untuk 1 hektar lahan berkisar antara 5-6 kg.
Benih sorgum dapat dipertahankan kemampuan tumbuhnya selama periode tertentu asal disimpan dengan baik dalam kemasan yang dapat mempertahankan kadar airnya +10% dan disimpan pada ruangan yang bersuhu 10-16°C.
Perlakuan Benih
Benih/biji Sorgum perlu direndam air bersih (suhu kamar, 20-26°C) selama 36 jam. Kemudian proses germinasi (perkecambahan), selanjutnya disemai di tempat teduh.
Benih yang hendak disemai harus direndam dahulu sekitar 2 x 24 jam.
Penyemaian
Untuk meningkatkan efisiensi penggunaan lahan, penanaman sorgum dapat dilakukan dengan menggunakan bibit yang sudah disemaikan. Proses penyemaian benih dilakukan 15 sampai 20 hari sebelum tanam.
Buatlah bedengan dengan ukuran lebar 1-2 m. Luas persemaian untuk lahan 1 hektar adalah sekitar 400 m atau 4% dari luas lahan. Persemaian dilakukan selama 25 hari sebelum masa tanam.
Tahapan penyemaian:
- Siapkan bedengan dengan lebar 1-1,5 m
- Campurkan tanah dengan kompos (1:1)
- Buat larikan sedalam 1 cm dengan jarak 10 cm
- Tabur benih yang telah direndam
- Tutup tipis dengan tanah halus
- Siram secara teratur
- Benih mengeluarkan tunas 2-7 hari
Bab V: Penanaman dan Pemeliharaan
Jarak Tanam dan Penanaman
Secara umum lubang tanam sorgum dibuat pada jarak 70 cm x 20 cm dengan dua tanaman per lubang tanam atau 70 cm x 10 cm dengan satu tanaman per lubang tanam. Hasil biji sorgum telah meningkat 1.5 kali pada jarak tanam 70cm x 10cm.
Untuk lahan beririgasi baik jarak tanam dapat dibuat sekitar 50 cm x 30 cm. Untuk tanah yang kurang subur dan tidak beririgasi, sebaiknya digunakan jarak tanam yang lebih lebar (75 cm x 25 cm) atau populasi tanaman dikurangi per ha.
Penanaman dilakukan dengan cara ditugal dengan kedalaman lubang tanam tidak lebih dari 5 cm. Setiap lubang tanam diisi 2-3 benih, kemudian ditutup dengan tanah ringan atau pupuk organik.
Penjarangan dan Penyulaman
Pada umur 2 minggu setelah tanam dilakukan penjarangan tanaman dengan meninggalkan dua tanaman/rumpun.
Penyulaman dilakukan pada umur 1-2 minggu setelah tanam untuk mengganti tanaman yang mati atau pertumbuhannya kurang baik.
Pemupukan Susulan
Pemupukan susulan dilakukan dalam 2-3 tahap:
Pemupukan I (umur 3-4 minggu setelah tanam):
- Urea: 50% dari dosis anjuran
- Aplikasikan dengan cara tugal di samping tanaman
Pemupukan II (umur 6-7 minggu setelah tanam):
- Urea: 50% sisa dari dosis anjuran
- KCl: 100% dari dosis anjuran
- Aplikasikan menjelang fase generatif
Nitrogen merupakan salah satu hara pembatas pertumbuhan tanaman yang ketersediaannya terbatas hampir di semua lahan pertanian di Indonesia. Takaran pupuk nitrogen bergantung pada tingkat kesuburan tanah dan varietas yang digunakan.
Pengairan
Pengairan dilakukan sesuai kebutuhan tanaman:
- Fase vegetatif: jaga kelembaban tanah 70-80% kapasitas lapang
- Fase generatif: kurangi pengairan untuk mencegah penyakit
- Fase pemasakan: hentikan pengairan 2 minggu sebelum panen
Penyiangan dan Pembumbunan
Penyiangan dilakukan 2-3 kali selama masa tanam:
- Penyiangan I: umur 3-4 minggu (bersamaan pemupukan)
- Penyiangan II: umur 6-7 minggu (bersamaan pembumbunan)
- Penyiangan III: jika diperlukan menjelang panen
Bab VI: Pengendalian Hama dan Penyakit
Hama Utama
1. Hama Burung Birds are among the most significant vertebrate pests affecting sorghum crops worldwide, particularly in community farming systems. Their attacks can lead to substantial yield losses, especially during the grain ripening stage.
Pengendalian:
- Pasang jaring penghalang burung
- Gunakan orang-orangan sawah
- Panen lebih awal saat soft dough stage
- Pemasangan jaring dan pengawalan intensif menjelang panen
2. Ulat Grayak Umumnya, ulat menyerang tanaman ini pada malam hari. Akibatnya, pada pangkal batang tanaman ini menjadi terpotong dan terlihat terkulai.
Pengendalian:
- Pengolahan tanah yang baik
- Aplikasi insektisida granule di sekitar lubang tanam
- Pengendalian biologis dengan musuh alami
3. Hama Tikus Pengendalian:
- Pemasangan perangkap
- Sanitasi lingkungan
- Pagar keliling lahan
- Gropyokan (gotong royong memburu tikus)
Penyakit Utama
1. Penyakit Antraknose Penyakit antraknose disebabkan oleh jamur jenis Colletrotrichum graminicola. Bintik-bintik kecil berwarna coklat kemerahan akan muncul pada daun sorgum yang terinfeksi jamur ini.
Pengendalian:
- Gunakan varietas tahan
- Aplikasi fungisida
- Sanitasi lahan
2. Penyakit Bercak Daun Penyakit bercak daun pada tanaman sorgum disebabkan oleh jamur jenis E. turcicum atau Helminthosporium turcicum. Gejala awal yang muncul mirip dengan penyakit antraknose, yakni munculnya bintik-bintik namun berwarna kuning kecoklatan pada bagian pangkal daun.
Pengendalian:
- Memotong bagian yang terinfeksi sesegera mungkin dan kemudian menyemprotkan fungisida
- Rotasi tanaman
- Pengelolaan air yang baik
3. Penyakit Karat Penyakit karat pada tanaman sorgum disebabkan oleh jamur dengan jenis Puccinia Purpera. Jamur ini adalah jenis obligat parasit yang sangat membutuhan inangnya.
Pengendalian:
- Gunakan varietas unggul yang tahan
- Aplikasi fungisida preventif
- Pengaturan jarak tanam yang baik
Bab VII: Panen dan Pasca Panen
Kriteria Panen
Panen pertama Sorgum mulai 110-135 HST (Hari Setelah Tanam).
Kriteria siap panen:
- Malai berwarna kuning kecoklatan
- Biji keras jika digigit
- Kadar air biji 18-20%
- Daun mulai menguning
Teknik Panen
Cara panennya yaitu dengan memotong pangkal malai sorgum sekitar 15 sampai 25 cm.
Tahapan panen:
- Panen dilakukan pada pagi hari
- Potong malai dengan sabit atau gunting
- Sisakan tangkai 15-25 cm
- Kumpulkan di tempat yang bersih dan kering
Perontokan
Perontokan secara tradisionil dilakukan dengan menggunakan pemukul kayu dan dikerjakan di atas lantai atau karung goni. Pemukulan dilakukan terus menerus hingga biji lepas. Setelah itu dilakukan penampian untuk memisahkan kotoran yang terdiri dari daun, ranting, debu atau kotoran lainnya.
Agar dicapai hasil yang terbaik dan efisien dianjurkan agar menggunakan wadah supaya biji tetap bersih, usahakan agar biji segera dirontok setelah panen untuk mencegah serangan tikus dan burung, dan kadar air tidak boleh lebih dari 10-12% untuk mencegah pertumbuhan cendawan.
Pengeringan
Sorgum varietas baru dengan kulit ari yang mudah mengelupas pun, juga harus dikeringkan, sampai kadar airnya mencapai 10-11%. Kadar air pengeringan padi, dan jagung hingga layak sosoh, cukup hanya 14-15%. Kalau pengeringan biji sorgum menggunakan standar padi dan jagung, ketika digiling, biji sorgum akan remuk, atau malahan menjadi tepung.
Tahapan pengeringan:
- Penjemuran di bawah sinar matahari 3-5 hari
- Aduk biji setiap 2 jam
- Tutup jika hujan
- Lanjutkan dengan pengeringan mekanis jika perlu
- Target kadar air: 10-11%
Penyimpanan
Syarat penyimpanan yang baik:
- Kadar air maksimal 12%
- Tempat penyimpanan kering dan bersih
- Bebas dari hama gudang
- Sirkulasi udara baik
- Suhu penyimpanan 10-16°C
Pengolahan Pascapanen
1. Penyosohan Upaya pengembangan sorgum terkendala oleh proses pasca panen. Sebab kulit ari biji sorgum, tidak bisa disosoh dengan cara tradisional, maupun dengan huller (mesin giling) padi dan jagung. Sorgum harus disosoh dengan huller bersilinder gerinda (abrasive mill).
Belakangan telah diciptakan varietas-varietas sorgum unggul, dengan karakteristik kulit ari biji yang mudah mengelupas. Sorgum baru ini bisa disosoh dengan huller biasa, yang biasa digunakan untuk menyosoh beras dan jagung.
2. Pembuatan Tepung Tepung merupakan produk pangan yang dapat dimanfaatkan lebih luas di masyarakat. Mempunyai beberapa keunggulan seperti, Rasa yang spesifik sorgum, Bergizi tinggi, kandungan serat pangan, daya cerna pati dan daya cerna protein yang tinggi dibandingkan dengan biji sorgum.
Tahapan pembuatan tepung:
- Bersihkan biji dari kotoran
- Rendam biji 2-4 jam (optional)
- Keringkan hingga kadar air 10-11%
- Giling dengan mesin penepung
- Ayak dengan ayakan 80 mesh
- Kemas dalam wadah kedap udara
3. Pengolahan Nira Batang Pengolahan nira sorgum untuk gula cair memerlukan batang sorgum yang telah tua/umur panen. Pada umur tersebut batang sorgum memiliki kandungan gula yang paling tinggi yakni berkisar pada angka brix 11-15.
Tahapan pengolahan nira:
- Potong batang sorgum yang matang
- Peras dengan alat pengepres
- Saring nira untuk menghilangkan kotoran
- Netralkan pH dengan kapur (1,1% dari volume)
- Panaskan hingga brix 60
- Kemas dalam wadah steril
Teknik Ratun
Kelebihan sorgum adalah kemampuannya dibudidayakan di lahan suboptimal (kering dan marginal) sepanjang tahun pada musim hujan dan kemarau. Tanaman ini juga memiliki kemampuan tumbuh kembali setelah dipanen melalui teknik ratun, yaitu dengan memotong batang utama hingga menyisakan satu buku.
Teknik ratun tidak memerlukan benih melainkan mengandalkan regenerasi tunas, dan sangat berguna untuk budidaya di tanah dengan kelembaban terbatas. Sistem ini mampu memenuhi kebutuhan bahan baku biomassa atau biji secara berkesinambungan, serta dapat meningkatkan hasil dan pendapatan petani.
Tahapan teknik ratun:
- Potong batang utama 15-20 cm dari permukaan tanah
- Sisakan 1-2 buku pada batang
- Bersihkan sisa batang dan daun kering
- Aplikasi pupuk organik di sekitar pangkal batang
- Lakukan penyiraman jika perlu
- Tunas baru akan muncul 1-2 minggu setelah pemotongan
Keunggulan sistem ratun:
- Menghemat biaya benih dan tenaga kerja
- Mempercepat masa tanam
- Meningkatkan efisiensi lahan
- Penanaman secara ratun masih mampu memberikan hasil sampai ratun ketiga
Mind Map Bisnis Budidaya Cantel
